Monday, April 17, 2006

Kata & Puisi

Tahukah kau, Kawan, belakangan ini aku seperti kehilangan banyak kata-kata. Well, pernyataan itu tidak berarti aku tidak bisa menulis dan berbicara. Kondisinya kurang lebih begini. Belakangan aku banyak merasakan berbagai perasaan, tapi aku tidak punya cukup kata untuk bisa mengungkapkannya. Perbendaharaan kataku tidak mampu untuk mencakupnya.

Ada kemungkinan kalau aku yang perlu menambah perbendaharaan kata dengan lebih banyak membaca. Namun bisa jadi perasaan-perasaan itu jauh lebih kaya dari untaian kata yang mampu kuungkapkan. Kalau pernyataan kedua barusan benar, maka hal itu akan kontradiktif dengan keadaanku yang sekarang ini sering tersentuh ketika membaca puisi, yang notabene menggunakan kata juga, meski hanya sedikit.

Dulu, aku tidak terlalu banyak mengonsumsi puisi. Makananku adalah esai, artikel, cerpen, cerbung, biografi, dan segala bentuk tulisan yang bercerita panjang lebar dan detail. Namun itu tidak berarti aku tidak bisa mengerti puisi. Aku hanya bisa memahami sedikit saja puisi bila dibandingkan dengan prosa. Sekarang, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku jadi akrab dengan puisi. Aku menghargai puisi lebih dari sebelumnya.

Dalam puisi, meski hanya ada untaian pendek kata-kata, tersimpan sejuta makna. Hanya dengan rangkaian sederhana, aku bisa mengerti semuanya. Hanya dengan rimanya, aku bisa memahami jiwanya. Seperti itulah keadaanku sekarang. Tidak dengan banyak kata, tapi hanya dengan sedikit kata.

Oke, aku mengerti kalau pembicaraanku mungkin agak tidak runtun. Namun harap dimaklumi karena dalam menulis ini aku sendiri sedang mencoba untuk memahami apa yang terjadi pada diriku.

Kembali lagi ke masalah puisi. Aku mencoba menebak-nebak, apakah aku sedang menapaki tahap selanjutnya dalam maqam sastra, saat aku kadang tidak dapat lagi banyak berkata dan hanya bisa berpuisi? Aku tidak tahu apakah ada hirearki semacam itu, di mana prosa berada di bawah puisi, dan aku tidak bermaksud membuat tingkatan semacam itu. Tapi jiwaku mengatakan begitu…. Ah, sebenarnya aku juga tidak yakin dengan pernyataanku barusan. Entahlah, aku sendiri belum memahami yang terjadi padaku sekarang sepenuhnya.



Kau…

Sampai di situ aku kelu

Ada rasa yang mengharu-biru

Yang sampai kini tak dapat bertemu



Sejuta asa

Tidak bisa bersua

Karena rasa ini terlalu kaya

Hingga kata pun tak mampu berbicara

1 comment:

Gie said...

galau itu sendiri puisi. bertanya juga puisi. kata-kata berdenting dari situ, tinggal bagaimana kita memberi jarak dengannya, biar kita lebih akrab dalam mencumbunya.

salam,
Yo