Jangankan Anda, seorang Arifin Sudarmo (42 tahun) yang jelas-jelas berprofesi sebagai konsultan inkubasi bisnis agro saja awalnya meragukannya. Apa pasal? Saat mengikuti sebuah seminar agrobisnis di akhir September 2007 lalu, di sebelahnya duduk seorang peserta dari PT Agarindo Bogatama. Kenalan barunya ini menyebut perusahaannya sebagai produsen tepung agar-agar terbesar kedua di dunia--hanya kalah dari Algas Marinas asal negara Cile. Bahkan orang ini meyakini bahwa dalam waktu dekat perusahaannya yang asli Indonesia ini akan segera menyalip Algas Marinas.
Merek tepung agar-agar perusahaannya adalah Swallow.
Tanpa bekal keahlian di bidang agar-agar, Efendy Tjoeng (64 tahun) merintis produksi agar-agar secara modern di Indonesia. Dan PT Agarindo Bogatama akhirnya berhasil menjadi produsen dan pemasok tepung agar-agar terbesar kedua di dunia setelah 36 tahun berjuang membesarkan Swallow Globe Brand.
Awalnya Effendy mengimpor dari Algas Marinas. Kemudian diamengemasnya di pabrik di Pluit, Jakarta Utara. Lalu mulai tahun 1972 perusahaan yang awalnya bernama PT Dunia Bintang Walet ini meluncurkan merk berikutnya yang harganya lebih murah: Swallow Star. Pada tahun 1980-an menyusul merk Swallow Matahari, Swallow Rumput, dan Swallow Lili. Merk-merk ini diluncurkan untuk mengepung pasar dan menawarkan produk yang harganya lebih terjangkau.
Lalu pada tahun 1985, PT AB bekerja sama dengan BPPT untuk meneliti potensi rumput laut dan wilayah yang cocok untuk budi daya produk ini di berbagai wilayah di Indonesia. Hasilnya, dipilihlah daerah Palopo, Sulawesi Selatan, seluas 1000 hektar. Hal ini dilakukan untuk melepaskan diri dari ketergantungan impor. Setlah ada jaminan pasokan bahan baku, kemudian mendirikan pabrik, pada periode 1997/1998 PT AB 100% berhenti mengimpor tepung agar-agar.
Pada tahun 2007, produsen terbesar di dunia memiliki total produksi 2000 ton per tahun. Posisi kedua dipegang PT AB dengan total produksi 1500 ton. Posisi ketiga adalah Inafood dengan total produksi sekitar 1000 ton. Tapi tahun 2008, posisi ini sudah berubah karena PT AB siap meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 200 ton/tahun. Tahun 2009/2010 PT AB mengupayakan agar produksinya mencapai 3400 ton. Mereka siap menjadi yang terbesar di dunia.
Oh ya, apakah anda kenal dengan M.C.Chuang dan ketiga putra-nya, John, Joseph, dan William yang asli Garut? Mungkin tidak.Tapi saya yakin anda tahu Ceres. Ya, Ceres adalah perusahaan produsen cokelat tersohor yang pabriknya bisa ditemui di daerah Bandung Selatan.
Inilah beberapa fakta tentang M.C.Chuang dan keluarganya: Di tahun 1950-an, M.C. Chuang sudah memasarkan cokelat dengan merek Silver Queen. Pada saat yang sama, sebuah perusahaan yang awalnya dimiliki orang Belanda, NV Ceres, yang kemudian dijual ke orang Indonesia semasa Jepang menduduki negeri ini, jatuh ke tangannya. Beliau juga belajar mengolah cokelat dari sumber yang tidak main-main, pengelola cokelat Van Houten.Ilmu itu digunakan untuk memperbaiki proses pembuatan Silver Queen. Ngomong-ngomong,lisensi produksi dan pemasaran Van Houten masih dipegang keluarga Chuang hingga hari ini.
Tak perlu analisis canggih untuk menyimpulkan kehebatan Grup Ceres yang berawal dari sebuah home industry berskala kecil dan ditangani dengan sederhana di Garut. Kunjungi saja para peritel. Dari yang kelas raksasa macam Carrefour atau Giant, hingga kelas Indomaret, Alfamart, kios-kios di terminal, warung-warung di kompleks perumahan, atau toko kelontong di pasar tradisional. Di semua tempat itu, Anda akan dengan gampang menemukan berbagai produk keluaran mereka. Silver Queen, Ritz, Delfi, Chunky Bar, wafer Briko, Top, biskuit Selamat, dan tentunya merek meises yang terkenal itu, meises Ceres.
Belum lagi pasar bahan baku cokelat (cocoa ingredient) yang mereka garap. Bidang ini bersifat B2B (industrial), jadi kliennya adalah kalangan korporasi yang memerlukan cokelat untuk produknya, entah itu susu, es krim, atau cokelat batangan. Perusahaan-perusahaan cokelat dan confectionary dunia seperti Nestle, Cadbury, dan Mars adalah sebagian dari deretan pelanggannya, bersama dengan kalangan pemilik restoran, bakery seperti Dunkin' Donuts dan Bread Talk, serta hotel-hotel.
Semula kantor pusatnya di Bandung. Karena bisnis grup ini terus berkembang pesat, kantor pusatnya kini dipindah ke Singapura, bernaung di bawah bendera Petra Foods Pte. Ltd. Petra Foods sudah mencatatkan sahamnya di Singapore Stock Exchange, dan lagipula, dunia lebih mengenal grup Ceres dengan nama Petra Foods. Dengan omset tahun 2007 Petra Foods sebesar US$ 836,61 juta dan laba bersih US$ 24,70 juta, Petra Foods dinobatkan sebagai Raja Cokelat no.3 di dunia, hanya kalah dari raksasa Mars Group (M&M) dan Hershey, keduanya asli Amerika.
Dan kemungkinan sebagian besar dari Anda tidak kenal perusahaan perkebunan dan pemrosesan buah nanas bernama PT Great Giant Pineapple (GGP). Areal perkebunannya berada di Terbanggi Besar 77, Lampung Tengah, dan merupakan areal penanaman nanas terbesar di dunia, luasnya 80 ribu hektar.
Pangsa pasarnya terbesar ketiga di dunia, hanya kalah dari Dole dan Del Monte yang sudah ada ratusan tahun di pasar. Awalnya GGP hanya memiliki perkebunan nanas seluas 15 ribu hektar. Di tahun 1984, luas lahan bertambah menjadi 35 ribu hektar dan empat lini produksi. Di tahun yang sama, GGP mengapalkan produknya ke luar negeri untuk yang pertama kalinya.
Produk-produk GGP berupa nanas kalengan (utama), jus buah nanas, clarified pineapple juice atau gula, dan tropical fruit coctail. GGP menggunakan jalur private label, dimana GGP menjadi produsen untuk label perusahaan lain. Nanas-nanas kalengan itu diberi kemasan dan merek sesuai permintaan konsumen. "Cetak label di sini. Film negatif untuk label tinggal dikirim ke sini. Sampai ke konsumen, mereka tinggal menjual. Barangnya sama, tapi mereknya saja yang berbeda. Yang beda juga pilihan produknya, ada yang pilihan atau standar," urai Lucy Willar, Manajer Pemasaran GGP.
Yang canggih dan merupakan keunggulan dari GGP adalah teknologi dan ketatnya prosedur proses produksi yang di- jalankannya. Kekuatannya terletak pada irigasi. Yang kedua adalah proses produksi yang terintegrasi penuh dalam satu area, mulai dari penanaman hingga pengiriman ke konsumen. Dan keunggulan GGP yang ketiga adalah pemanenan yang berkesinambungan sepanjang tahun."No single day without pineapple," ujar Lucy bangga.
Lagipula, GGP tercatat sebagai satu-satunya perkebunan nanas di dunia yang bersertifikasi ISO 9001:2000. Hampir semua sertifikat keamanan dan proses produksi mereka miliki karena masing-masing negara punya standar yang berbeda. "Jadi istilah-nya kami ini kolektor sertifikat, hahaha." Dari ISO sampaisertifikat Kosher, yang menandakan kehalalan makanan bagi umatYahudi, ada.
Kenapa GGP memilih untuk berada di jalur private label? "Karena satu, masalah investasi. Perlu uang, maaf... Dengan membuat merek sendiri, kami perlu beriklan setiap hari di seluruh dunia, itu butuh banyak upaya dari segi uang dan strategi. Kalau kami ingin jadi terbesar dari segi merek, rasanya sulit untuk menyaingi Dole dan Del Monte. Mereka sudah ratusan tahun di pasar, meski kualitasnya sama. Bahkan GGP pernah juga mengemas untuk Dole dan Del Monte," tutur Lucy.
Sederet perusahaan lain seperti Hartindo (produsen zat fire safety yang bahannya organik dan ramah lingkungan, bukan halon), Grup Musim Mas (bergerak di bisnis CPO), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT Panarub Industries (mitra Adidas dalam memproduksi sepatu bola), PT Sorini (produsen sorbitol dan penantang serius dari perusahaan Roquette, Perancis), PT Sari Makmur (eksportir kopi, pemasok terbesar Starbucks), bisa dibilang tidak dikenal. Tapi prestasinya mantap. Keberhasilan mereka bukanlah hal yang main-main. Kualitas produk, layanan, proses produksi, manajemen perusahaan kelas kakap mereka menjadikan mereka layak bersanding dengan pemain kelas dunia. Kerja keras, disiplin, fokus pada core bisnis, dan perbaikan mutu tiada henti adalah kunci sukses mereka.
Jadi, diam-diam, produk Made in Indonesia dipandang dengan serius oleh dunia.
Di saat sebagian orang merasa pesimis dengan nasib bangsa ini, kehadiran pengusaha-pengusaha dengan mental baja dan ulet tadi seperti angin segar. Tanpa basa-basi atau niatan mencari popularitas, rata-rata mereka bisa meraih posisi lima besar dunia dan mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Sebagian besar dari mereka bergerak di bidang sumber daya alam atau berbasis sumber daya alam; suatu kekayaan yang memang berlimpah di negeri ini. Ini adalah bukti bahwa kita bukan bangsa kelas dua. Asal punya kemauan dan kegigihan, jadi nomor satu di dunia rasanya bukan sekedar mimpi.
Ah..., Indonesia. Tanah air yang kucinta. Alhamdulillah...
Indonesia... tanah air beta Pusaka abadi nan jaya Indonesia... sejak dulu kala Selalu dipuja-puja bangsa...
[This writing could not exist without the courtesy of SWA sembada magazine, ed.25/XXIII/Nov 22nd-Dec 5th 2007 and ed.21/XXIV/Oct 9th-22nd 2008]
Pengamat. Penuh rasa ingin tahu. Berusaha tuk menjadi manusia pembelajar sejati, yang belajar tentang diri, kehidupan, dan Tuhannya. Supel (kecuali kalo lagi capek atau lagi jelek suasana hatinya). Santai. Serius. Gak mudah terkesan karena penuh pertimbangan. Dari hasil tes, kepribadian saya katanya kombinasi koleris-melankolis.
Penggemar makanan yang dimasak segar dan enak *haruuus*, jus buah, dan dan gaya hidup sehat. Hobi: buku, menulis, film, jalan-jalan (mau keliling dunia, amiiin!).
Dan saya akan senang berkenalan dengan Anda. Bila ingin berkenalan, silahkan cek ke tempat-tempat berikut. Jangan lupa kirim pesan dulu ya sebelum menjadikan saya teman di situ. Soalnya gak mau menjadikan akun saya seperti 'pasar', dengan orang-orang yang saya belum kenal. Bukan mau sok terkenal, tapi saya ingin silaturahminya makin bermanfaat (kalau kita udah kenal). Thanks!