Wednesday, September 28, 2005

Being 21

( 2 days to go... )

Bismillahirahmanirahiim.

21 tahun. Sebentar lagi umur saya genap 21 tahun insya Allah. Sejujurnya saya takjub sendiri mendengar angka ‘21’ disebut. Rasanya tidak percaya kalau saya sudah mau 21 tahun.

Fiuuuuuuh, masih tetap takjub...

Entah kenapa saya bisa takjub. Barangkali karena saya tidak menyangka kalau menjadi ‘Ales yang berumur 21 tahun’ akan begini rasanya. Tidak pernah terbayang kalau saya akan mencapai 21 tahun. Maka di sinilah saya, hampir berumur 21 tahun dan masih merasa kalau diri saya belum dewasa, belum mencapai kematangan yang sebenarnya, belum utuh, belum banyak pencapaian yang bisa saya banggakan, dan masih banyak ‘belum-belum’ lainnya. Masih ada yang kurang dari diri saya; masih sangat banyak malah.

Entahlah. Ketika kecil saya sempat punya bayangan kalau berumur di atas dua puluh tahun akan jauh lebih dewasa dari keadaan saya sekarang ini. Yah, tentu saja keadaan saya jauh lebih dewasa daripada ketika saya berumur 12 tahun.

Ketika saya baru masuk kuliah di ITB, umur saya 17 hampir 18 tahun. Masa umur belasan atau umur dengan angka ‘satu’ sebagai angka umur pertama merupakan masa yang sangat panjang dan lama saya rasakan. Pada dasawarsa kedua dari hidup saya itu, saya mengalami banyak sekali peristiwa dan gejolak perubahan. Benar-benar masa yang penuh perjuangan. Ketika saya baru menginjak umur 20, saya merasa berat untuk meninggalkan umur belasan itu; berat untuk meninggalkan segala kenyamanan dan perlindungan keluarga; berat untuk meninggalkan segala perlindungan dunia untuk manusia yang berumur belasan; berat untuk menjalani kewajiban-kewajiban manusia dewasa yang harus mengurus dirinya sendiri. Masa remaja adalah masa yang penuh kesenangan dan keamanan.

Tapi waktu tidak bisa berkompromi. Saya harus menghadapinya. Maka saya jalani umur 20 itu dengan penuh sukacita. Namun waktu tidak dengan kejamnya membiarkan saya berjalan tanpa ilmu dan petunjuk. Saya mendapat banyak sekali pengetahuan tentang bagaimana seharusnya manusia dewasa bersikap dan menghadapi dunianya. Saya pun mendapat banyak masukan mengenai sikap mental manusia dewasa dan satu hal yang menjadi isu hangat di sekitar saya: pernikahan.

Well, saya sudah ditanya oleh beberapa orang mengenai hal itu. ‘Kalo gitu kapan undangannya saya terima?’, ‘Kapan nyusul?’, ‘Emang udah ada temen kuliah yang mau serius?’, dan lain-lain, adalah beberapa dari pertanyaan yang teman tanyakan pada saya yang berkaitan dengan pernikahan. Sudah waktunya sih memang. Orang dengan umur seperti saya sudah sepatutnya memikirkan pernikahan. Namun entah kenapa, semangat yang ada sekitar setahun yang silam sekarang menguap. Masih banyak hal yang belum saya selesaikan. Bukan berarti rencana-rencana itu tidak bisa saya kompromikan dengan kehidupan pernikahan sebenarnya. Hanya saja..., saya belum bisa membayangkan bagaimana repotnya saya menyelesaikan semua rencana saya dibarengi dengan menyesuaikan diri terhadap kehidupan pernikahan.

...

Saya hendak memperkenalkan tokoh-tokoh dalam diri saya. Yang pertama adalah ‘Saya’ yang punya karakter tenang, dewasa, tegas, serius, anggun, dan logis. Yang kedua adalah karakter ‘Aku’ yang agak manja, agak histeris kadang-kadang, cepat khawatir, khas remaja yang belum stabil, periang, moody, dan kurang serius. Yang ketiga adalah ‘Gue’. Karakter ini agak seenak-perutnya sendiri, cuek, blak-blakan, berani, setia kawan, agak kasar, tomboy, grasa-grusu, suka main perintah, dan dingin. Karakter keempat bernama ‘Ales’. Dia adalah penengah dari ketiga karakter sebelumnya, misalnya kalau si Aku lagi dimarahi oleh Saya.

Saya: Ah, kamu terlalu banyak khawatir, Les. Kalau dijalani enggak akan terlalu ribet kok...

Ales: Apa betul begitu, ya? Au ah, elap!

Ketika saya melihat kembali ke awal tulisan ini dan melihat angka ‘21’, saya kembali takjub. Benar ya saya akan genap berusia segitu? Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaargh! Saya masih merasa kalau saya belum cukup dewasa untuk menjadi orang yang berumur 21 tahun. Masih banyak yang kurang dalam diri saya. Saya terus-menerus merasa kurang, kurang, dan kurang. Hiks!

Saya: Ooooh, shut up, Sari Alessandra!

Ales: Oke, oke. Ampun, Mbak. Itu sekedar kehisterisan sesaat.

Perhatian! Perhatian! Yang sedang menuangkan idenya saat ini adalah si Ales. Bukan ‘Saya’ atau ‘Aku’ atau ‘Gue’.

...

Oke, sekarang kita keluar dari drama ‘aneh’ di dalam diri saya tadi. Itu hanya intermezzo saja. Kita kembali ke pembahasan tentang ‘umur 21’ tadi.

Tadinya saya berencana untuk membuat tulisan panjang tentang saya yang berumur 21 tahun dan akan saya masukkan ke blog ini tepat pada tanggal 30 September nanti. Tapi, karena pertimbangan kenyamanan membaca, saya akan membagi ide-ide saya itu dalam beberapa tulisan. Entah berapa tulisan. Tapi yang jelas saya akan menulis ‘B21’ yang merupakan singkatan dari ‘Being 21’ sebagai penanda bahwa tulisan saya berkaitan dengan perenungan saya tentang ‘berumur 21’. Anggaplah tulisan ini sebagai pembuka dari serial tulisan B21. Apakah hanya akan ada dua tulisan, saya tidak tahu. Yang jelas saya akan menulis lagi.

Nantikan saja tulisan saya yang berikutnya.

No comments: