Thursday, May 24, 2007

Bagaimana Kau Mengingat Kematian?

Berawal dari blog pejalanjauh. Ketika melihat komentar Sang Pejalan Jauh ini, saya tertarik untuk bersua ke blognya. Melihat catatan-catatan perjalanannya, kesan tertinggal di hati ini. Kemudian aku terhenti di catatan tentang Bukan Pasar Malam dan Sang Pengguratnya, Pramoedya Ananta Toer. Pun kemudian aku melihat catatan tentang Irwan Kurniawan, adik dari Sang Pejalan Jauh.

Entahlah, mungkin karena Pram, atau mungkin karena keindahan karyanya, atau karena kepergiannya, atau karena dua catatan beriring tentang kepergian Irwan, adik Sang Pejalan Jauh, tiba-tiba hati ini diselimuti kabut kesenduan. Tanpa bisa dicegah--seperti biasanya--hati berujar, "Bagaimana kau mengingat kematian?"

Apakah itu teguran untuk diri ini, atau sekedar judul pembuka dari memori-memori yang mengiringinya, aku tidak tahu. Karena kemudian slide-slide dalam warna sephia diprojeksikan ke salah satu sudut benakku. Slide-slide itu berisi memori di masa lalu yang entah bagaimana, hadir...

Bagaimana aku mengingat kematian?

Mungkin dengan memori tentang seorang kawan bernama Novi.

Aku masih bisa melihat wajahnya dengan jelas. Saat itu hari Ulangan Umum di SMP 19 Bekasi. Keheningan saja yang hadir, dan tentu saja, asap tak kasat mata yang melayang dari kepala-kepala pemikir muda di kelas itu. Jam tangan kugeletakkan di meja. Lalu...

"DIT-DIT...DIT-DIT!"

Peringatan itu memecah kesunyian kelas. Pukul sepuluh tepat. Tapi tidak ada yang bergerak. Semua kepala masih tertunduk. Entah kenapa, setelah mendengar peringatan itu, aku bertatapan dengan seorang teman lain, di meja di sebelah depan, baris sebelah kananku. Seolah suara itu begitu berarti. Dan mengapa kami memilih untuk bertatapan di jam sepuluh tepat itu, setelah sekian hari ujian dalam kelas yang sama, dan entah berapa kali bunyi peringatan jam, kami belum tahu. Kami lalu kembali menekuri soal-soal. Keheningan kembali berkuasa.

Tapi nampaknya tahta keheningan tidak pernah bisa lama berkuasa hari itu. Selang setengah jam kemudian, Andi, sang Ketua OSIS, salah satu sobat kentalku, memasuki kelas dan membawa kabar duka itu.

"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Telah berpulang ke rahmatullah, teman kita semua, Novi, di RSU Bekasi, jam sepuluh... Kepada teman-teman yang hendak melayat setelah ujian ini, dipersilakan untuk berkumpul di bawah."

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan pikiran pun tidak bisa melintas. Aku dan temanku tadi kembali berpandangan. Tanpa kata-kata, kami kembali bertatapan. Seketika itu juga kami mengerti, mengapa kami bertatapan sebelumnya. Kami mengerti.

Aku, yang sudah selesai mengerjakan ujianku, segera keluar stelah pengumuman selesai. Aku terdorong untuk mencari udara segar. Posisiku sebagai sekretaris Osis memungkinkan hal itu. Saat kutatap kejauhan, melintasi padang alang-alang di samping sekolah, aku bisa berpikir kembali. Kemarin, baru kemarin, aku masih bersamanya, tersenyum, mengerjakan ujian di kelas yang sama. Dia duduk di belakang. Aku masih ingat sweater merah yang dikenakannya, dia memang terlihat sakit. Namun hari ini, dia sudah tiada...

Bagaimana aku mengingat kematian?

Entahlah. Saat itu aku tidak bisa mengerti. Seolah yang terjadi saat itu tidak nyata, hanya ada dalam pikiranku saja. Namun aku tidak berlama-lama. Aku pun mengikuti temanku untuk berkeliling ke kelas-kelas lain , mengulangi berita yang semakin menyayat hati ketika disampaikan. Tanpa perlu susah payah, rombongan kelas dua, dari OSIS, guru-guru, anggota Paskibra SMP 19 Bekasi, teman-teman yang kenal Novi, berkumpul di depan kantor TU. Kami berangkat ke rumah duka.

Di rumah duka, aku tidak bisa mengeluarkan air mata. Entah..., kurasa kesedihanku lebih dalam dari sekedar air mata.

Novi dimakamkan di TPU Cilincing, Jakarta Utara. Tempat yang sentimental. Aku selalu merasa sentimentil bila pergi ke sana. Entah karena ingatan tentang Novi, entah karena kenyataan bahwa ibuku pun dibaringkan di hamparan tanah yang sama, tujuh tahun yang lalu.

Bagaimana aku mengingat kematian?

Mungkin dengan kesenduan lembut yang hadir memenuhi benakku saat kuingat Novi. Mungkin dengan kerinduan yang kerap membayang ketika kuingat Umi...

Entahlah...

Bodoh vs Bijaksana

Saya berkesempatan membaca buku terbaru dari Rhenald Kasali yang berjudul Re-Code Your Change DNA pada tanggal 20 Mei 2007, tepat pada hari Kebangkitan Bangsa. Saya terserap sepenuhnya pada buku itu. Sayangnya, saya hanya bisa menyelesaikan separuh dari buku ketika teman yang meminjamkannya hendak pergi.

Sebenarnya saya bisa menyelesaikannya dengan cepat seandainya saya tidak membaca sambil mencatat. Mencatat yang saya maksud adalah mengetikkan hal-hal penting yang saya peroleh dari buku itu ke dalam sebuah file. Itu kebiasaan saya; mencatat hal-hal penting dari buku yang saya baca. Banyak sekali ide, kutipan, dan kisah yang menarik serta menginspirasi di sana. Salah satunya tentang saat kita bodoh, kita berpikir untuk menguasai orang. Saat kita bijak, kita akan berpikir untuk menguasai diri sendiri.

Setelah berpikir cukup panjang, saya mendapatkan sebuah pemikiran menarik tentang Bodoh vs Bijaksana. Ide tentang Bodoh vs Bijaksana ini tidak langsung didapat setelah berpikir tentang ‘saat kita bodoh, kita berpikir untuk menguasai orang’ dan seterusnya. Saya melewati berbagai pemikiran lain tentang manajemen dan bisnis dulu. Ketika tiba pada topik cara-cara yang diterapkan dalam bisnis, baru saya terpikir tentang Bodoh vs Bijaksana. Berikut ini hasil olah-pikir saya.

Saya menimbang-nimbang..., kemudian memutuskan bahwa antonim dari ‘bodoh’ adalah ‘bijaksana’. Demikian pula sebaliknya, lawan kata ‘bijaksana’ adalah ‘bodoh’. Bila dilihat sekilas, pendapat saya akan dianggap tidak tepat, bahkan ngawur. Secara umum kita mengetahui bahwa lawan kata ‘bodoh’ adalah ‘pintar’. Tadinya saya berpendapat demikian. Tapi hasil pemikiran saya malah menunjukkan kalau lawan kata ‘bodoh’ bukan hanya ‘pintar’. Lawan kata ‘bijaksana’ bukan sekedar ‘tidak bijaksana’. Ada alasan yang logis (dan saya sendiri baru menyadarinya) untuk kesimpulan itu dan saya akan menceritakannya untuk anda.

Dalam kata ‘bodoh’, terkandung makna ‘ketidaktahuan’. ‘ketidaktahuan’ adalah makna yang paling dasar dari ‘bodoh’. Ternyata, makna ‘ketidaktahuan’ dari kata ‘bodoh’ tidak lantas menyebabkan ia memiliki lawan kata ‘pintar’. ‘pintar’ tidak sekedar ‘tahu’, tapi ada kandungan makna ‘kemampuan berpikir yang tinggi’ di sana. Dari sini kita memperoleh fakta baru bahwa dalam kata ‘bodoh’, terkandung makna ‘kemampuan berpikir yang rendah’. Karena makna ini, memang tepat bila ‘bodoh’ memiliki lawan kata ‘pintar’.

Sekarang saya minta anda untuk mengingat-ingat. Kapan anda menyebut seseorang bodoh? Jawaban dari pertanyaan barusan tentu lebih dari satu. Kita akan menyebut seseorang bodoh ketika orang itu tidak tahu apa-apa dan/atau lamban berpikir. Itu baru dua.


Sekarang saya akan bertanya lagi. Kapan tepatnya anda mengumpat pada orang (entah di dalam hati maupun secara verbal) dan menyebutnya bodoh? Ternyata, kala kita sedang kesal pada seseorang, kita menyebutnya bodoh tidak melulu lantaran dia tidak tahu atau lamban berpikir. Kita menyebutnya bodoh karena orang itu melakukan tindakan yang ceroboh, dan/atau kurang hati-hati, dan/atau tidak cermat dan/atau kurang pertimbangan. Dari sini, saya mendapati bahwa kata ‘bodoh’ tidak hanya mengandung aspek ketidaktahuan dan rendahnya kemampuan berpikir, tapi juga mengandung 'kecerobohan', 'ketidakhati-hatian', 'ketidakcermatan', dan 'kurang pertimbangan'.

Apakah dalam kata ‘pintar’ terkandung kemawasan, kehati-hatian, dan kecermatan? Ternyata, sepengetahuan saya, tidak. Seseorang boleh pintar, tapi belum tentu dia mawas diri, hati-hati, cermat, dan penuh pertimbangan. Sementara itu, orang yang bijaksana sudah tentu pintar dan... mawas diri, hati-hati, cermat, serta penuh pertimbangan. Demikianlah aspek-aspek dalam makna ‘bijaksana’ yang saya ketahui.

Setelah menimbang-nimbang dengan teliti, saya sampai pada kesimpulan sementara bahwa lawan kata ‘bodoh’ adalah ‘pintar’ dan ‘bijaksana’. Jadi ada dua lawan kata dari ‘bodoh’, yang penggunaannya bergantung pada konteks pembicaraan kita. Tapi, mengingat dalam kata ‘bodoh’ terkandung makna-makna yang tidak tercakup oleh lawan katanya yang ‘pintar’, saya menobatkan ‘bijaksana’ sebagai lawan kata ‘bodoh’ yang tepat.

Saya menduga-duga apa yang membuat nominasi untuk lawan kata dari ‘bodoh’ tidak tunggal. Apakah karena bahasa Inggris yang lebih detil dalam istilah itu yang memberi pengaruhnya pada bahasa Indonesia, sementara pilihan kata dalam bahasa Indonesia terbatas?


Entahlah, saya tidak bisa gegabah, meskipun hanya menduga. Saya memikirkan topik Bodoh versus Bijaksana ini hanya berdasarkan pada wawasan yang saya peroleh, hingga saat ini. Hanya menggunakan common sense. Besar kemungkinannya ahli linguistik atau bahasa akan protes.

Tapi... kesenangan mengulik-ulik makna kata, struktur, dan relasinya mengasyikkan buat saya. Kegiatan ini membawa saya menyelam masuk ke kedalaman sebuah makna kata. Yah, paling tidak saya bisa lebih kritis dalam berbahasa dan berbicara; tidak sekedar asal jeblak aja.



Oh ya, saya berharap anda tidak bosan dengan ulik-ulik bahasa yang saya lakukan belakangan ini. Saya punya semacam kekhawatiran, para pembaca akan mual-mual atau bahkan mati kebosanan karena topik yang saya pilih untuk pikirkan dan tulis. Semoga saja anda senang membacanya. :D

Tuesday, April 24, 2007

Kapan Harus Menginggris

SUMBER: Kompas, 13 April 2007

[Pengantar: Dosen mata kuliah Karir Dalam Matematika saya, bu Indah, sangat kritis terhadap bahasa. Beliau sering bercerita tentang beragam kekeliruan dalam berbahasa di kalangan orang Indonesia, bahkan di kalangan dosen dan mahasiswa yang 'katanya' intelek. Hari Jumat lalu, beliau membawa file tulisan ini dan menampilkannya di depan kelas. Saya tertarik untuk mengutipnya juga di sini; bagi-bagi informasi. Semoga saja kita lebih mawas dalam berbahasa, tidak sekedar berbicara "asal keren". Silahkan dinikmati...]


Jauh sebelum kami berkunjung di Indonesia beberapa bulan yang lalu, saya sudah memutuskan untuk tak cepat terbawa emosi ketika melihat bahasa Indonesia dan bahasa Inggris bergaul dengan ria dan liar. Saya sudah yakin pergaulan ini menjadi-jadi dan tak kenal batas kewajaran.

Tak ada gunanya, saya berkata kepada diri sendiri, menjadi kebakaran jenggot hanya karena sejumlah kosakata dan bentuk tata bahasa Inggris berdansa di tengah-tengah kata dan gramatika Indonesia. Tak ada gunanya, saya berkata pula, menggaruk kepala yang sudah gundul guna mencari alasan perihal ini. Tak ada gunanya perduli.

Sebelum berangkat saya bahkan punya pikiran bahwa saya sendiri bisa ikut-ikutan nginggris guna tampil lebih keren. Setidaknya sesekali biar anggota keluarga lain tak terlalu malu. Dengan demikian, situasi bahasa tak akan menjengkelkan , tapi mungkin malah menyenangkan.



Tak ada gunanya, saya berkata pula, menggaruk kepala yang sudah gundul guna mencari alasan perihal ini.

Itu teorinya. Praktiknya lain. Sesudah beberapa hari di Indonesia, saya sudah yakin bahwa saya tak bakal bisa menyelipkan kata-kata Inggris ke dalam kalimat berbahasa Indonesia. Mengapa? Apakah memang tidak bisa berbahasa Inggris? Ya bisa, tapi saya tak bisa mengerti persisnya kapan dan dalam situasi bagaimana saya harus nginggris.

Mungkin sekarang sebagian pembaca mengatakan: “Lo, itu kan easy sekali!” Bisa juga pembaca lain bilang: “Lo, that’s mudah sekali!” Ada juga yang berkata: “Lo, itu kan very mudah!” Yang benar menurut logika bahasa Inggronesia, saya tidak tahu. Mungkin semua benar, atau semua salah.

Mertua saya senang membuat kue. Beliau tentu saja punya koleksi resep dari sejumlah sumber. Salah satu sumber ini sebuah tabloid wanita. Di situ saya menemukan resep “ cake wortel”. Bukan “kue carrot”, “wortel cake”, “carrot kue”. Di koran yang Anda sedang pegang sekarang saya juga melihat ada hotel yang menyediakan “ruang meeting”. Mengapa tidak “room pertemuan”? Dan lebih penting lagi, bagaimana cara tahu yang mana yang “benar”?



Di koran yang Anda sedang pegang sekarang saya juga melihat ada hotel yang menyediakan “ruang meeting”. Mengapa tidak “room pertemuan”?

Jika pernah membuka situs Kompas di internet (www.kompas.com), Anda mungkin pernah melihat tulisan kecil-kecil di bagian bawah, yang menyediakan sejumlah informasi mengenai koran ini. Saya kira mungkin terdapat beberapa kunci bahasa Inggronesia di sana, koran terbesar di negeri ini.

Di sana orang dapat membaca tentang sejumlah “Subject” seperti “nasional”, “internasional”, dan “hiburan”. (Menarik juga sebuah subyek disuguhi dengan kata sifat.)Di sana ada juga rubrik “Interes”, entah bahasa apa itu. Adapun “Kontak Jodoh”, “Informasi Kerja”, dan (tiba-tiba) “News by Email”. Kemudian ada informasi “Tentang Kami”, “Iklan”, dan (lagi-lagi tiba-tiba) “Subscribe”. Yang paling menarik ialah rubrik yang disuguhi hampir terakhir:”Elektronik Edisi”. Kedua kata ini sudah dalam bentuk bahasa Indonesia, tapi susunanya mengikuti pola Inggris. Barang tentu susunan Indonesia yang lebih lumrah dipakai ialah “Edisi Elektronik”.

Seperti sudah saya katakan, saya tidak akan kebakaran jenggot hanya karena pergaulan bebas ini. Dan memang jenggot saya masih nempel seperti sebelum berangkat. Namun, saya benar-benar tak mengerti kenapa kedua bahasa ini harus bergaul dengan begini karena hasilnya hanya kebingungan dan ketidakjelasan. Setidaknya bagi saya yang tak bisa memahami bahasa hibrida ini. Nanti kalau ada mata kuliah bahasa Inggronesia akan saya follow dengan senang hati. Sampai later!

ANDRE MÖLLER
Pengamat Bahasa, Tinggal di Swedia

Monday, April 23, 2007

Hikayat Laut nan Rendah Hati

[Puisi yang sama ditaruh di blog Friendster. Waktu itu Blogger susah diakses sih, jadinya ke Friendster aja.]

Kubertanya pada Robbi

Tentang menjadi rendah hati

Kudapati diri ini

Terlampau tinggi hati


Lama dinanti...

Jawab tak kunjung menghampiri

Dia hendak menguji diri

Sejauh apa kusungguh hati


Liku jalan kulewati

Tidaklah seindah meniti pelangi

Hingga satu hari

Sebuah ilham mendekati:

Jadilah laut, ilham mengawali

Laut luas nan dalam

Laut megah lagi perkasa

Tapi dia rebah di tempat terendah

Semata agar semua sungai tak sungkan

tuk bermuara padanya

Jadilah laut, kata ilham itu lagi

Tak semua air sungai jernih

Madu, racun, susu, darah, air mata, cinta

Semua mengalir di dalamnya

Namun kala mereka melebur dengan laut

Mereka menjadi satu: air laut segar nan jernih

Hilang semua kedirian mereka

Yang ada hanyalah suci


Penantian berhenti, jiwaku menari

Bagai sejuta kupu-kupu terbang tinggi

Kumantapkan hati tuk satu janji:

Ku kan menjadi laut yang rendah hati...

Bandung, 5 Febuari 2007

Thursday, April 19, 2007

Bahasa Menunjukkan Budaya

Beberapa keistimewaan bahasa yang dipakai suatu bangsa tertentu membatasi cara-cara berpikir dan pandangan bangsa yang bersangkutan terhadap fenomena tempat mereka hidup. Saya menganggap bahwa sususan bahasa dan keistimewaan lain yang dimiliknya merupakan faktor dasar bagaimana suatu masyarakat memandang hakikat alam dan tempat mereka berada. Contohnya saja, orang Eskimo yang memiliki berbagai istilah untuk menamai berbagai bentuk salju, atau orang Arab yang mempunyai puluhan nama untuk buah kurma mulai dari yang masih di pohon, yang baru dipetik, sampai yang telah kering.

Whorf, pencetus dari Linguistic Relativity Hypothesis

Setelah saya membaca tulisan barusan di sebuah buku karangan K.H. Shiddiq Aminullah, Drs., MBA, saya seolah tersadar. Oh, pantes, pikir saya. Pantes aja dalam bahasa Inggris kerap ditemukan teks yang menunjukkan kalau seorang anak dapat memanggil nama kecil dari kakak atau orangtuanya, seolah-olah mereka itu teman saja, bukan orangtua dan anak. Tak hanya di teks, di film-film mereka juga kerap ditemui.

Jadi begini. Sudah lama saya mengamati kalau di dalam bahasa Inggris tidak ada istilah khusus yang mengacu pada ‘kakak’ dan ‘adik’. Yang ada hanyalah istilah sibling, sister, dan brother bagi saudara kandung, kakak maupun adik, yang notabene menyatakan kesetaraan tanpa memandang usia. Untuk membuat fokus pembicaraan menjadi lebih spesifik, kadang ditambahkan kata little di depan kata brother atau sister untuk menunjukkan ‘adik bungsu’ ataupun saudara yang lebih muda. Dan sebaliknya, untuk menunjukkan ‘kakak tertua’, ditambahkan kata eldest sebagai keterangan di depan kata sister atau brother.

Mari kita bandingkan dengan bahasa Indonesia. Dalam bahasa ini, sebutan untuk saudara kandung (ataupun orang yang bukan saudara kandung tapi kita hormati) yang lebih tua mempunyai istilah khusus yaitu ‘kakak’. Untuk saudara kandung yang lebih muda ada istilah ‘adik’. Bahkan anak tertua mempunyai istilah khusus yaitu ‘sulung’. Demikian pula anak paling kecil dalam keluarga yang biasa disebut ‘bungsu’. Namun untuk anak kedua, tengah, kakak dari bungsu, tidak ada istilah khusus. Hanya ada sebutan ‘anak ke-sekian‘ (bahasa Indonesia tidak berbeda dengan bahasa Inggris dalam hal ini). Dalam bahasa Indonesia, usia serta urutan kelahiran itu penting dan tercermin dari istilah yang ada.

Bandingkan kembali dengan istilah dalam bahasa Inggris sister-brother yang hanya mengacu pada gender dari saudara kandung, tidak pada usia. Kita mengetahui bahwa orang barat sebagai ‘pemilik’ bahasa Inggris memiliki budaya yang mengutamakan kesetaraan dari setiap individu dan isu gender merupakan isu yang mendapat perhatian lebih. Bukan berarti masalah usia saudara atau orang lain tidak diperhatikan. Yang lebih ditekankan bukanlah usia, melainkan gender dan individu itu sendiri. Sedangkan di Indonesia, hormat pada yang lebih tua atau lebih tinggi posisinya merupakan isu utama dalam budaya masyarakatnya, terlepas dari apapun bentuk penerapannya di masing-masing daerah. Bukannya gender laki-laki dan perempuan tidak mendapat perhatian, hanya saja ‘posisi’ dalam struktur masyarakat atau keluarga menjadi fokus utamanya. Contoh yang paling jelas adalah cerita dari seorang teman saya. Dia orang Batak. Katanya, meskipun seseorang itu sudah menjadi jenderal bintang lima, tapi kalau dalam keluarganya dia ada di posisi sebagai keponakan, misalnya, maka dia yang mencuci piring di dapur. Begitulah di Indonesia, posisi dalam struktur hirearkis lebih penting.

Contoh dari perbandingan antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris adalah contoh yang memadai. Dengan melihat istilah yang dipakai dalam suatu bahasa kemudian kita melihat budaya penutur bahasa tersebut, ternyata kita bisa melakukan sebuah analisis budaya dari suatu penutur bahasa. Kita pun bisa mengetahui kecenderungan suatu masyarakat, kepribadiannya, bahkan mungkin kesuksesan dari masyarakat tersebut di masa yang akan datang (untuk melakukan hal yang terakhir ini tentu dibutuhkan tambahan analisis psikologi). Hanya dengan melihat istilah-istilah tertentu yang digunakannya. Ini sungguh sebuah pemikiran yang menarik.

Tapi ini bukanlah hal yang baru dalam linguistik. Chomsky sudah melakukan analisis budaya berdasarkan bahasa yang digunakan suatu masyarakat. Whorf juga sudah. Dan hipotesis dari Whorf membuka lebar mata saya terhadap keadaan itu.

Kembali ke bahasa Inggris. Saya tidak tahu apakah: 1) penggunaan istilah sister-brother itu muncul duluan baru mempengaruhi cara pandang penutur bahasa Inggris atau sebaliknya, 2) cara pandang berbasis genderlah yang mempengaruhi munculnya istilah sister-brother. Hal ini sungguh menarik untuk ditelaah lebih jauh, apalagi bagi yang memang berminat pada linguistik (seperti saya, misalnya). Mungkin ketika saya mencari yang mana yang benar antara 1) dan 2), saya akan menemukannya dalam sejarah panjang dari kebudayaan penutur bahasa Inggris. Mulai dari masa ketika daratan Eropa masih didominasi oleh bahasa Latin, lalu masa penggunaan bahasa Inggris kuno di sekitar abad 15-16 masehi, hingga penyerapan banyak istilah dari bahasa asing seperti slalom, mathematics, levitate, oleh bahasa Inggris modern, yang membuatnya menjadi bahasa gado-gado. Tapi tidak apa, saya memang senang dengan sejarah, terutama yang berkaitan dengan isu budaya serta bahasanya.

BTW, ngulik-ngulik bahasa dan kaitannya dengan budaya memang mengasyikan ya? Terbersit dalam pikiran saya untuk mengambil S2 di bidang linguistik-budaya. Tapi di mana ya? Kalo ada yang punya info, kasih tau ya….

Tambahan dari Ernest Renan, penulis buku Sejarah Umum Bahasa-bahasa Semit:

Di antara yang mengherankan, bahasa Arab itu tumbuh dengan kuatnya dan sampai pada tingkatan yang sangat sempurna. Di tengah-tengah padang pasir dan bangsa yang gemar berkelana, bahasa tersebut mengungguli bahasa serumpun lainnya dalam kekayaan kosa kata, ketajaman arti, dan keindahan susunan bentuknya. Sebelumnya, bahasa ini tidak dikenal orang… [Dr. Malik Badri, Tafakur, 1996]