Thursday, December 15, 2005

Heran

Saya sering mendapati orang terheran-heran dengan saya. Mereka heran dengan apa mereka sebut ‘wawasan luas’ yang saya miliki. Semenjak saya SMP (ketika saya sudah mulai bisa berpikir dan menimbang dengan benar) hingga sekarang, saya sering mendapat keheranan itu. Padahal saya pikir itu biasa saja.

Contoh yang paling dekat adalah ketika saya mengikuti Latihan Mujahid Dakwah 159 dari Salman pada 21-24 Oktober yang lalu. Ketika kami, para peserta LMD, sedang menikmati makan malam bersama, saya sempat disangka anak jurusan Biologi. Apa pasalnya? Sambil makan, saya berbicara dengan salah seorang panitia dan menyarankan agar susu murni tidak diberikan pada peserta sebagai ta’jil untuk berbuka puasa. Saya bilang kalau kasein dalam susu adalah bagian yang sulit dicerna. Kalau susu diberikan pada saat berbuka, perut biasanya akan kaget. Bagi yang memiliki lambung yang kuat tidak masalah. Tapi bagi yang tidak, perutnya bisa terkena diare.

Para peserta yang semeja dengan saya rupanya mendengar dengan seksama dan beberapa orang bertanya beberapa hal lebih lanjut. Lantas mereka bertanya apakah saya dari jurusan Biologi. Saya jawab, “Matematika”. Mereka terkejut. Hal itu terlihat jelas dari wajah mereka setelah mengatakan kalau saya dari jurusan Matematika. Beberapa jam setelah itu ada satu orang peserta yang bertanya, darimana saya bisa mendapat ‘pengetahuan yang luas’ itu. Saya bilang kalau saya mendapatkannya dari membaca (tampaknya saya membaca dua atau tiga kali lebih banyak dari mereka). “Waaaaah,” katanya. Saya menambahkan kalau pengetahuan saya tentang kesehatan semacam itu berguna sekali di masa mendatang, terutama nanti kalau kita menjadi orangtua dan harus membesarkan anak-anak. Dia manggut-manggut mendengar saya berkata begitu.

Saya masih ingat sampai sekarang, satu momen di tengah pelajaran Geografi di SMP. Si Ibu sedang membahas potensi ekonomi beberapa daerah di Indonesia. Saat itu, Ibu Guru bertanya apakah ada yang tahu siapa pengusaha kuda yang lumayan tersohor di Indonesia. Murid satu kelas saling menengok ke kiri dan ke kanan. Mereka semua angkat bahu. Tidak ada yang tahu. Akhirnya mata si Ibu mengarah ke saya. Saya langsung berkeringat dingin. Saya tahu kalau si Ibu akan melihat saya karena saya adalah si Rangking Satu (saya tidak terlalu bangga akan hal itu; masalahnya, setiap kali ada apa-apa, saya yang diandalkan; padahal saya tidak selalu tahu; kan repot kalau tidak bisa menjawab).

“Eeeeeeeee...,” saya mengulur waktu sebentar. “Bob Sadino, Bu,” akhirnya saya menjawab sekenanya.

Tanpa dinyana, si Ibu Guru berkata begini, “Yaa. Betul, Les. Bob Sadino, anak-anak...”

Hah?! Bener ya? Padahal..., sumpah, gua cuma nebak-nebak.

Pada masa itu, di televisi sering disiarkan iklan yang menampilkan Bob Sadino di tengah ranch miliknya sambil berkuda. Saya lupa iklan apa. Mungkin iklan teh. Iklan dengan Bob Sadinonya itu tidak menjelaskan secara eksplisit kalau Bob Sadino adalah pengusaha kuda. Yang digambarkan adalah satu makna hidup, entah apa. Saya tidak bisa ingat secara persis, habis sudah lama sekali. Tapi dari iklan itulah saya mendapat kesimpulan sembarangan bahwa Bob Sadino adalah pengusaha kuda, bukan dari buku Geografi. Kesimpulan itu yang saya gunakan untuk menjawab pertanyaan si Bu Guru.

Belakangan saya sering berpikir, apa jangan-jangan si Ibu Guru bertanya tentang pengusaha kuda gara-gara melihat iklan itu juga ya? Entahlah. Tapi paling tidak, saya mendapatkan gambaran jelas bahwa sebagian besar siswa sekolah saya waktu itu minat membacanya sangat rendah. Yang saya maksud adalah membaca buku atau teks. Dan fakta itu berimbas pada pola pikir mereka. Buktinya iklan yang saban hari terpampang di hadapan mereka tidak membuat mereka mendapatkan sesuatu. Mereka tidak terbiasa membaca teks sehingga ‘membaca’ yang lain pun tidak bisa. Tapi lagi-lagi ini hanya kesimpulan saya yang sembarangan.

Saya bersyukur memiliki orangtua yang memiliki minat baca tinggi meski mereka hanya lulusan SMU. Wawasan mereka luas dan bahasa Inggris mereka bagus sekali. Minat membaca itu pun mereka tularkan kepada kami anak-anaknya. Mereka berlangganan majalah Tempo, Gatra, koran Kompas dan Pos Kota. Kadang mereka membeli majalah Humor (sekarang majalah itu sudah tidak pernah saya lihat lagi di pasaran). Saya jadi ikut membaca bacaan-bacaan orangtua itu. Untuk kami anak-anaknya, mereka membelikan majalah Donal Bebek dan Bobo. Ketika majalah remaja Kawanku terbit pun, Mama saya membelikannya. Belum lagi novel-novel karya Enid Blyton dan Agatha Christie yang senantiasa dibaca oleh Mama.

Saya melihat bahwa keheranan orang-orang pada saya adalah sesuatu yang wajar. Mereka melihat saya sebagai orang yang tahu banyak tentang berbagai hal. Tapi ada ‘tapi’-nya. Saya menilai bahwa orang-orang melihat wawasan yang saya miliki dengan kekaguman itu, tidak—atau mungkin belum—menyadari bahwa diri mereka sendiri pun memiliki pengetahuan yang tidak saya miliki. Yah, singkatnya, rumput tetangga lebih hijau.

Terlepas dari kekaguman orang-orang itu, saya tidak merasa bahwa wawasan yang saya miliki suatu hal yang patut dibanggakan (dan semoga saya tidak bangga karena mengatakan ini). Saya mengetahui semua itu karena saya memang ingin mengetahuinya. Lagipula saya memang membutuhkannya. Seperti sedikit pengetahuan saya tentang kesehatan dan cara kerja tubuh. Pengetahuan itu berguna sekali ketika saya sedang sakit dan membutuhkan pertolongan pertama. Saya jadi tidak terlalu tergantung pada obat-obatan kimia yang memang tidak terlalu baik untuk kesehatan bila digunakan terus-menerus. Saya pun dapat membantu teman-teman saya bila mereka sakit, tentunya sebatas yang saya mampu. Intinya, ilmu yang saya miliki itu sangat bermanfaat.
Tapi tetap saja orang heran pada saya.

8 comments:

danu doank said...

ikut heran boleh yak? wassalam...

za said...

Winners live their own life's. Loosers live others life's. Gak pa-pa Les, orang menganggap kamu aneh. Yang penting kamu tetap menikmati hidup dan berpegang teguh pada prinsip. Juga jangan lupa, selalu bersifat terbuka terhadap kritikan.

Hebat ya, orang tua kamu. Sudah menanamkan minat baca sejak dini.

Awan Diga Aristo said...

waaah... hebat ya... ales wawasannya luas =P

Yuti Ariani said...

Dan wawasan itu lebih bagus lagi ketika ia berbunga. Menyebarkan semerbaknya pada sesama, dan membuat perubahan-perubahan yang tidak hanya kesenangan semata...

yaya said...

Buku itu kan jendela dunia :)

Anonymous said...

aku suka baca juga, tapi ko ga 'berwawasan luas' ya?

Unknown said...

....anyway, semakin banyak saya baca buku (plus nambah tau kalo temen2 saya bukunya bagus2 juga), semakin saya merasa ilmu di otak ini hanya bagaikan liliput...

...saya mau banget ngebacain buku2 temen saya yang namanya Nana. Urgh! Keren-keren sekali bukunya...

Anonymous said...

Semakin banyak tahu...kita semakin tahu bahwa ternyata...tidak banyak yang kita tahu....