Monday, November 20, 2006

Tempat Sampah, Kesadaran, dan Etika

Tahu tidak, di kampus saya ada tempat sampah baru! (Horeeeeeeee! Tempat sampah baru!) Iya, betul, setelah tempat sampah dengan dengan tutup-tiga-warna itu, ada tempat sampah bulat dengan tiga warna (tempat sampahnya yang tiga warna; gak ada tutupnya). Kalau tempat sampah yang lama itu tulisannya "sampah organik", "sampah kertas", dan "sampah plastik", sekarang tulisan di tempat sampah yang baru itu adalah "sampah yang dapat membusuk”, “sampah logam, kaca, dll”, dan “sampah yang tidak dapat membusuk”. Oh iya, saya tidak ingat persis namanya, jadi saya kira-kira aja nama tempat sampah tadi sesuai dengan yang saya bisa ingat.

Kalau mau tau tempat saya melihat di mana, datang aja ke deket gedung Farmasi. Anda berjalan dari arah gedung PLN punya Elektro ke arah Sostek. Di pinggir jalan tempatnya. Kedua jenis tempat sampah itu berdampingan, jadi Anda bisa melihatnya dengan mudah karena mencolok.

Begitu saya berjalan dengan dua orang teman saya ke daerah situ selepas kuliah Sejarah Matematika, saya melihat lagi tempat sampah baru itu. Saya nyeletuk, “Hmmm, parah juga ya? Sangking tidak cerdasnya, perlu ada tempat sampah baru dengan label baru yang lebih mudah dimengerti supaya mereka tau di mana mereka mesti menempatkan sampahnya.” Saya merujuk ‘mereka’ pada mahasiswa atau orang-orang di kampus ITB yang masih menjadikan buang-sampah-sembarangan sebagai gaya hidup.

Saya memang tidak tahu apa tujuan dari penempatan tempat sampah baru itu. Lagipula tempat sampah itu baru saya liat di tempat itu. Jadi ada kemungkinan tempat sampah itu ada hubungannya dengan departemen Farmasi.

Terlepas dari ada-tidaknya hubungan tempat sampah baru dengan Farmasi, saya tergelitik untuk melanjutkan komentar saya.

Hari sabtu yang lalu, saya menghadiri EO School di GKU baru. Sepanjang jalan—dari perpustakaan pusat ke GKU baru—saya melihat sampah berserakan di sudut-sudut yang strategis untuk tersembunyi. Saya yang sedang lemas cuma bisa terdiam melihat itu. Saya tidak marah, saya tidak kesal. Saya hanya prihatin dan bertanya-tanya, kok bisa ya begini?

Hari senin minggu sebelumnya (6 Nopember), saya kuliah Manajemen Inovasi. Dalam kuliah itu tiba-tiba saja tercetus dalam benak saya kalau ternyata yang namanya ’etika dasar’ itu masih harus diajarkan di bangku kuliah. Contoh ’etika dasar’ adalah membuang sampah pada tempatnya, berjalan di trotoar bukannya di badan jalan, tidak merusak tanaman, tidak mencorat-coret tembok, kursi, atau meja, tidak memberi cap kaki di tembok, tidak membuang tissu di kamar mandi. Itu yang bersifat fisik. Yang bersifat non-fisik adalah tidak menyontek PR atau ujian, berkompetisi dengan sehat (tanpa cara curang—menjatuhkan orang lain), mengucapkan terima kasih, meminta maaf bila berbuat salah, memberi penghargaan atas prestasi yang diraih orang lain, dan sebagainya. Saya mendapatkan pemahaman itu ketika Pak Gede Raka bercerita tentang etika manusia intelek dalam kuliahnya dua minggu lalu. Dengan mengambil contoh di ITB sendiri, pak Raka bercerita panjang lebar tentang etika-etika dasar yang saya sebutkan tadi.

Ketika kesadaran akan etika dasar yang masih harus diajarkan di perguruan tinggi itu muncul, saya terkejut. Bagi saya, etika-etika semacam itu sudah saya dapatkan jauh sebelumnya; ketika saya sekolah dasar. Saya mendapatkannya dari orangtua dan guru SD saya. Memang tidak ada kurikulum atau buku acuan yang digunakan waktu itu, tapi saya menjadi manusia yang punya etika dasar sejak SD. Jadi ketika saya menyaksikan etika-etika itu masih harus diberitahukan Pak Raka dalam kuliahnya, saya heran.

Saat saya mencoba untuk memikirkannya lebih jauh, saya teringat fakta bahwa pendidikan di Indonesia itu lebih condong pada pelatihan-kemampuan-otak-kiri. Jadi kalau kita mau merujuk pada definisi ’pendidikan’ yang sebenarnya, pendidikan kita itu ’bukan pendidikan’. Ya, hanya pelatihan. Tapi saya tidak akan membahas itu. Lain kali saja. Yang hendak saya tekankan adalah kenyataan bahwa model pendidikan semacam itu akhirnya membuat banyak etika dasar tidak sampai pada mayoritas generasi muda Indonesia. Mereka cerdas tapi tidak mengerti etika dasar dan tidak punya empati. Sebenarnya tidak tepat kalau dikatakan tidak punya empati. Yang lebih tepat adalah empati mereka dibiarkan layu hingga hampir mati. Saya katakan ’hampir’ lho. Empati mereka belumlah mati. Tapi karena sudah terbiasa untuk tidak berempati, syaraf empati mereka menjadi sangat kering.

Kondisi itulah yang menyebabkan banyak sekali mahasiswa di perguruan tinggi terjorok ini (saya katakan PT terjorok karena di daeah depan gerbangnya berserakan kotoran kuda dan burung tapi rektoratnya cuek bebek; masa’ halaman depan tempat menyambut tamu kotor didiamkan saja?) dapat membuang sampah di jalanan dengan sangat ringan. Kalau orang-orang dalam kelompok 4% terbaiknya saja begini, bagaimana dengan orang dalam kelompok 96% sisanya? Au ah, gelap!

Lantaran empatinya hampir kering, sampah yang diletakkan dengan sangat manis di pinggir jalan itu tidak membuat mahasiswa-pembuang-sampah-sembarangan terganggu matanya. Ah, biarkan saja tukang sapu yang ngurus. Fuuuh, sebuah bentuk keacuhan. Itu sudah biasa kok, sudah menjadi bagian hidup sehari-hari, jadi mereka tidak menjadikannya bahan pemikiran. Lagipula hal itu tidak ada dalam daftar penilaian dosen. Jadi nilai ujian maupun IP saya tidak akan terpengaruh. Mungkin begitulah pikir mereka.


Oke, saya memang tidak bisa tidak sinis kalau membicarakan hal ini.


Saya berpikir lagi. Kalau etika dasar saja belum mapan terintegrasi dalam diri mereka, bagaimana dengan etika lanjutan? Bagaimana mereka akan menguasainya? Haaah, sudahlah. Saya jadi capek sendiri di titik ini.

Itulah realita. Sampah yang mesti dibuang di tempatnya saja masih harus diajari. Pendidikan yang diterapkan di Indonesia tidak menyertakan kemampuan untuk belajar tentang hal-hal non-fisik semacam itu dalam kurikulumnya. Itulah sebabnya sampai hari ini saya masih saja ngedumel tentang mental-pembuang-sampah.

Au ah, gelap!

7 comments:

ikram said...

blom lihat les, tempat sampahnya..

Unknown said...

Jalannya dari lab punya Sipil (lab apa ya? lab mekanika tanah atau semacam itu?) yang ada di deket Comlabs, trus menuju Farmasi-Sostek.Keliatan deh, bulet-bulet...

za said...

Lama tak berkunjung. Ho..ho...ho... Ales memang semangat euy ngomongin sampah. :-)

Kalau yang kulihat, tulisan kamu masih terlalu sederhana analisisnya. Untuk sudut pandang mental pembuang sampah yang masih seenaknya, itu cukup. Tapi coba lihat dari sisi lainnya.

Sistem pengangkutan sampah misalnya. Contoh kasus: pada tong sampah yang kemarin, sampah tidak terangkat dengan baik. Penjadwalan pengangkatan yang tidak tepat. Volume masing-masing kategori sampah yang berbeda-beda. Akibatnya sampah luber kemana-mana. Lalu apa yang dilakukan oleh pembuang sampah? Ya sudah, buang saja di bagian yang tidak sesuai dengan kategori sampah itu.

Atau coba juga telisik ke sisi sang pengangkut sampah itu sendiri. Apakah mereka dapat hidup layak dari profesi itu?

Memang tidak sederhana ya. Namun untuk etika dasar, aku setuju sekali.

Unknown said...

Sebenernya itu adalah 'omelan', tanpa ada maksud analisis dan lain-lain...

Kalau sistem pengangkutan dll, itu jauh dari yang ales pikirin kemarin. Lagi kesel aja liat sampah betebaran dimana-mana (bukan di sekitar tempat sampah aja), di sudut-sudut 'strategis' yang dilalui orang. Bahkan di kelas yang memang setiap hari dibersihin aja gak ada perasaan bersalah dari pembuang-sampah waktu meletakkan sampah di lantai...

Sempet ngerasa kalau tulisan itu terlalu nunjukin kekesalan ales dan kata-katanya tajam. Ah udah deh...Jadi kesel lagi kalo inget-inget sampah.

za said...

Kesal boleh-boleh aja, Les. Ya, tapi Ales kan bisa berbuat lebih dari sekadar kesal aja kan? ;-)

Anonymous said...

They are really e - Bay money creating possibilities
just waiting to occur. Many sellers sell identical items along with the price wars are often ugly, but that is to be expected in a free industry,
which is precisely what e - Bay is. Find out everything you should know about this wonderful program & register today.


Review my site: como comprar no ebay; ,

Anonymous said...

Hello it's me, I am also visiting this site on a regular basis, this web site is in fact good and the users are genuinely sharing pleasant thoughts.


Also visit my webpage: home loan modification program
(http://lakestevensrowing.org/)