Thursday, May 04, 2006

Dewasa

(Satu saat, Ales yang sedang tenangnya membaca didatangi oleh Aku dan ditanyai)

Aku: Eh, Les, emang gimana sih jadi dewasa itu?

Ales: Ada apa emangnya?

Aku: Pengen tau aja pendapat kamu tentang ‘dewasa’. Abis selama ini aku gak nyangka kalo jadi dewasa itu seperti yang sekarang aku rasakan. Secara umur sih udah bisa dibilang dewasa, 21 tahun. Tapi aku kok terus-terusan ngerasa kalo aku itu gak dewasa-dewasa...

Ales: Coba tanya sama Saya. Sono gih, tanya. Tuh, dia, lagi berpikir seperti biasa.

Aku: Okeh! (Berlari dan memanggil Saya di kejauhan) Saya, Saya, kan kamu udah denger obrolan aku sama Ales. Emang dewasa itu gimana sih? Bantuin kita dong.

Saya: Hmmmm, tumben kamu mau bertanya sesuatu yang serius?

Aku: Iiiiiiiiiiih, emang aku gak bisa serius?!

Saya: Iya, deh. Jangan merajuk ya? (Kemudian Saya menjelaskan dengan lembut) Begini, kamu ingat salah satu iklan A Mild yang sering terpampang di baligo besar di pinggir jalan? Yang tulisannya kira-kira begini, “Tua itu pasti, tapi dewasa belum tentu”?

Aku: Inget, inget! Emangnya kenapa?

Saya: Yang pertama mau saya ungkapkan adalah bahwa menjadi dewasa itu tidak selalu berkorelasi dengan umur. Kamu tahu tidak kalau dulu, di zaman ortu-ortu atau om-tante kita muda dulu, menikah di umur 20 sudah termasuk lambat bagi seorang gadis. Yang normal itu sekitar umur 17-an. Sedangkan pria-prianya, ketika mereka berumur 17, sudah lumrah adanya kalau mereka sudah punya rumah atau tanah sendiri....

Aku: Trus, trus?

Saya: Coba perhatikan para pemuda atau pemudi sekarang. Di umur 17 mereka belum lagi mengenal ‘punya penghasilan sendiri yang mapan’ atau ‘menikah’. Faktor kemajuan dalam bidang pendidikan berperan besar di sini. Kalau kita mau menyebut adanya ‘kemunduran’ dalam umur kedewasaan orang zaman sekarang, barangkali benar. Itu disebabkan oleh periode muda kita yang lebih panjang. Tapi di sisi lain pemuda-pemudi menjadi lebih terdidik dibanding pendahulu-pendahulu kita. Ada konsekuensi dari kemajuan pendidikan itu. Jadi keadaan sekarang sebenarnya tidak salah, kok. Eh, ngerti apa ngerti? Panjang-panjang dijelaskan jangan cuma manggut-manggut saja.

Aku: Iya, iya (sambil sedikit merajuk dan memonyongkan bibir). Ngerti kok. Aku kan gak bego-bego amat soal itu. Trus apa lagi? Pertanyaanku belom dijawab kan?

Saya: Memang belum selesai. Inti kata-kata saya tadi adalah menjadi ‘dewasa’ itu tidak selalu ada pada umur yang orang lain anggap cocok untuk menjadi dewasa. Dewasa itu ada pada sikap. Jadi anak yang berumur belasan sudah bisa kita anggap dewasa kalau dia sudah mempunyai sikap atau kualitas tertentu yang menunjukkan kedewasaan.

Aku: Contohnya apa?

Saya: Misalnya sikap menahan diri dari keinginan atau hasrat yang datang secara impulsif. Kalau seseorang mempunyai keinginan tertentu lalu dia dengan membabi-buta berkeras agar keinginannya dipenuhi, itu yang namanya kekanak-kanakan. Sebaliknya, kalau dengan sabar dia berupaya agar keinginannya tercapai, dengan cara-cara yang baik tentunya, maka dia bisa disebut dewasa. Itu baru satu contoh kecil dan sederhana dari sikap dewasa.

Aku: Trus apalagi dong?

Saya: (Menggelengkan kepala) Nah, itu dia PR buat kamu. Kalau kamu merasa umurmu sudah cukup dewasa, maka ciri-ciri lain dari kedewasaan harus kamu cari sendiri. Kalau saya yang memberitahu semuanya, kapan kamu dewasa? (Mendekati Aku dan memeluk bahunya) Cobalah kamu belajar sendiri bagaimana dewasa itu. Hitung-hitung pelajaran atas kesabaran dan praktek langsung tentang kedewasaan buat kamu.

Aku: Ya....(Ekspresinya sedih dan kemudian terdiam sejenak. Kemudian dia bergerak tiba-tiba dari tempatnya, seakan-akan dia hendak melompat, dan berkata dengan riang). Iya, ya. Bener banget dong! Kapan aku dewasa kalo gak belajar sendiri. Waaaaaaaaaah, Saya emang top banggeth deh! Thanks berat, Saya (Aku bergerak ke arah Saya dan mencium pipinya dengan semangat).

Saya: Sama-sama, sayangku. Wish you all the best (Saya tersenyum hangat dan menatap Aku yang pergi menjauh sambil kegirangan).

Ales: Aku, Aku. Belom bisa berubah juga dia. Masih suka lompat-lompat kegirangan kayak anak kecil.

Saya: Ya tidak apa. Biarkan dia menjadi dirinya sendiri dan memelihara hati putihnya. Gadis seperti dia adalah orang yang langka di dunia yang sudah penuh dengan hati yang abu-abu atau hitam.

Ales: Kamu benar. Yuk, udahan.

Saya: Baiklah. Mau ke mana sehabis ini....

(Langkah-langkah mereka terdengar menjauh. Sambil berjalan, mereka bercengkerama dengan penuh keakraban)

2 comments:

za said...

Lagi solilokui, Les? Semoga kamu tidak sedang kesepian ;-)

Unknown said...

Hmmmm...

Enggak kok, Q. Tulisan ini udah lama kok. Cuma baru ngerasa kalo tulisan ini layak dimuat sekarang-sekarang ini.

Wei..., apa kabarnya Pak?