Sunday, October 25, 2009

One of My Favourites

Two animals meet each other in the forest.

Asks the first animal: “What kind of creature

are you?”


Answers the second animal: “I’m a wolfdog.”


“What is a wolfdog?”


“Well, my daddy is a wolf and my mommy is

a dog, so I’m half wolf, half dog, a wolfdog.

And what kind of animal are you?”


“I’m a dragonfly.”


“You’re kidding...”


(Dragonfly: capung; but when we separate it into

dragon: naga + fly: lalat, well, you get it...)

Tuesday, October 13, 2009

Mereka Sang Penakluk Pasar Global

Jangankan Anda, seorang Arifin Sudarmo (42 tahun) yang
jelas-jelas berprofesi sebagai konsultan inkubasi bisnis
agro saja awalnya meragukannya. Apa pasal? Saat mengikuti
sebuah seminar agrobisnis di akhir September 2007 lalu,
di sebelahnya duduk seorang peserta dari PT Agarindo
Bogatama. Kenalan barunya ini menyebut perusahaannya
sebagai produsen tepung agar-agar terbesar kedua
di dunia--hanya kalah dari Algas Marinas asal negara Cile.
Bahkan orang ini meyakini bahwa dalam waktu dekat
perusahaannya yang asli Indonesia ini akan segera
menyalip Algas Marinas.

Merek tepung agar-agar perusahaannya adalah Swallow.

Tanpa bekal keahlian di bidang agar-agar, Efendy Tjoeng
(64 tahun) merintis produksi agar-agar secara modern di
Indonesia. Dan PT Agarindo Bogatama akhirnya berhasil
menjadi produsen dan pemasok tepung agar-agar terbesar
kedua di dunia setelah 36 tahun berjuang membesarkan
Swallow Globe Brand.

Awalnya Effendy mengimpor dari Algas Marinas. Kemudian
dia
mengemasnya di pabrik di Pluit, Jakarta Utara. Lalu mulai
tahun 1972 perusahaan yang awalnya bernama PT Dunia
Bintang
Walet ini meluncurkan merk berikutnya yang harganya
lebih
murah: Swallow Star. Pada tahun 1980-an menyusul
merk Swallow
Matahari, Swallow Rumput, dan Swallow Lili.
Merk-merk ini
diluncurkan untuk mengepung pasar dan
menawarkan produk
yang harganya lebih terjangkau.

Lalu pada tahun 1985, PT AB bekerja sama dengan BPPT
untuk
meneliti potensi rumput laut dan wilayah yang cocok
untuk
budi daya produk ini di berbagai wilayah di Indonesia.
Hasilnya, dipilihlah daerah Palopo, Sulawesi Selatan,
seluas 1000 hektar. Hal ini dilakukan untuk melepaskan diri
dari ketergantungan impor. Setlah ada jaminan pasokan
bahan
baku, kemudian mendirikan pabrik, pada periode
1997/1998
PT AB 100% berhenti mengimpor tepung
agar-agar.


Pada tahun 2007, produsen terbesar di dunia memiliki total
produksi 2000 ton per tahun. Posisi kedua dipegang PT AB
dengan total produksi 1500 ton. Posisi ketiga adalah Inafood
dengan total produksi sekitar 1000 ton. Tapi tahun 2008,
posisi ini sudah berubah karena PT AB siap meningkatkan
kapasitas produksinya menjadi 200 ton/tahun. Tahun
2009/2010 PT AB mengupayakan agar produksinya mencapai
3400 ton. Mereka siap menjadi yang terbesar di dunia.

Oh ya, apakah anda kenal dengan M.C.Chuang dan ketiga
putra-
nya, John, Joseph, dan William yang asli Garut?
Mungkin tidak.
Tapi saya yakin anda tahu Ceres. Ya,
Ceres adalah perusahaan
produsen cokelat tersohor
yang pabriknya bisa ditemui di
daerah Bandung Selatan.

Inilah beberapa fakta tentang M.C.Chuang dan
keluarganya:
Di tahun 1950-an, M.C. Chuang sudah
memasarkan cokelat dengan
merek Silver Queen. Pada
saat yang sama, sebuah perusahaan
yang awalnya dimiliki
orang Belanda, NV Ceres, yang kemudian
dijual ke
orang Indonesia semasa Jepang menduduki negeri ini,
jatuh ke tangannya. Beliau juga belajar mengolah cokelat
dari
sumber yang tidak main-main, pengelola cokelat Van
Houten.
Ilmu itu digunakan untuk memperbaiki proses
pembuatan Silver
Queen. Ngomong-ngomong,lisensi
produksi dan pemasaran Van
Houten masih dipegang
keluarga Chuang hingga hari ini.


Tak perlu analisis canggih untuk menyimpulkan kehebatan
Grup
Ceres yang berawal dari sebuah home industry
berskala
kecil dan ditangani dengan sederhana di Garut.
Kunjungi
saja para peritel. Dari yang kelas raksasa macam
Carrefour
atau Giant, hingga kelas Indomaret, Alfamart,
kios-kios di
terminal, warung-warung di kompleks
perumahan, atau toko
kelontong di pasar tradisional.
Di semua tempat itu, Anda
akan dengan gampang
menemukan berbagai produk keluaran
mereka. Silver
Queen, Ritz, Delfi, Chunky Bar, wafer Briko,
Top,
biskuit Selamat, dan tentunya merek meises yang
terkenal
itu, meises Ceres.

Belum lagi pasar bahan baku cokelat (cocoa ingredient)
yang mereka garap. Bidang ini bersifat B2B (industrial),
jadi
kliennya adalah kalangan korporasi yang memerlukan
cokelat
untuk produknya, entah itu susu, es krim,
atau cokelat batangan.
Perusahaan-perusahaan
cokelat dan
confectionary dunia seperti Nestle,
Cadbury, dan Mars adalah sebagian dari deretan

pelanggannya, bersama dengan kalangan pemilik
restoran,
bakery seperti Dunkin' Donuts dan
Bread Talk, serta
hotel-hotel.

Semula kantor pusatnya di Bandung. Karena bisnis grup ini
terus berkembang pesat, kantor pusatnya kini dipindah ke
Singapura, bernaung di bawah bendera Petra Foods Pte. Ltd.
Petra Foods sudah mencatatkan sahamnya di Singapore
Stock Exchange, dan lagipula, dunia lebih mengenal grup
Ceres dengan nama Petra Foods. Dengan omset tahun 2007
Petra Foods sebesar US$ 836,61 juta dan laba bersih
US$ 24,70 juta, Petra Foods dinobatkan sebagai Raja
Cokelat
no.3 di dunia, hanya kalah dari raksasa Mars
Group (M&M)
dan Hershey, keduanya asli Amerika.

Dan kemungkinan sebagian besar dari Anda tidak kenal
perusahaan perkebunan dan pemrosesan buah nanas bernama
PT Great Giant Pineapple (GGP). Areal perkebunannya berada
di Terbanggi Besar 77, Lampung Tengah, dan merupakan areal
penanaman nanas terbesar di dunia, luasnya 80 ribu hektar.

Pangsa pasarnya terbesar ketiga di dunia, hanya kalah dari
Dole dan Del Monte yang sudah ada ratusan tahun di pasar.
Awalnya GGP hanya memiliki perkebunan nanas seluas 15 ribu
hektar. Di tahun 1984, luas lahan bertambah menjadi 35 ribu
hektar dan empat lini produksi. Di tahun yang sama, GGP
mengapalkan produknya ke luar negeri untuk yang pertama
kalinya.

Produk-produk GGP berupa nanas kalengan (utama),
jus buah
nanas, clarified pineapple juice atau gula,
dan
tropical fruit coctail. GGP menggunakan jalur
private label, dimana GGP menjadi produsen untuk
label perusahaan lain. Nanas-nanas kalengan itu diberi
kemasan dan merek sesuai permintaan konsumen.
"Cetak
label di sini. Film negatif untuk label tinggal dikirim
ke sini. Sampai ke konsumen, mereka tinggal menjual.
Barangnya sama, tapi mereknya saja yang berbeda.
Yang
beda juga pilihan produknya, ada yang pilihan
atau
standar," urai Lucy Willar, Manajer Pemasaran GGP.

Yang canggih dan merupakan keunggulan dari GGP adalah
teknologi dan ketatnya prosedur proses produksi yang di-
jalankannya. Kekuatannya terletak pada irigasi. Yang kedua
adalah proses produksi yang terintegrasi penuh dalam satu
area, mulai dari penanaman hingga pengiriman ke konsumen.
Dan keunggulan GGP yang ketiga adalah pemanenan yang
berke
sinambungan sepanjang tahun."No single day without
pineapple
," ujar Lucy bangga.

Lagipula, GGP tercatat sebagai satu-satunya perkebunan
nanas
di dunia yang bersertifikasi ISO 9001:2000. Hampir
semua
sertifikat keamanan dan proses produksi mereka
miliki karena
masing-masing negara punya standar yang
berbeda. "Jadi istilah-
nya kami ini kolektor sertifikat,
hahaha." Dari ISO sampai
sertifikat Kosher, yang
menandakan kehalalan makanan bagi umat
Yahudi, ada.

Kenapa GGP memilih untuk berada di jalur private label?
"Karena satu, masalah investasi. Perlu uang, maaf... Dengan
membuat merek sendiri, kami perlu beriklan setiap hari di
seluruh dunia, itu butuh banyak upaya dari segi uang dan
strategi. Kalau kami ingin jadi terbesar dari segi merek,
rasanya sulit untuk menyaingi Dole dan Del Monte.
Mereka
sudah ratusan tahun di pasar, meski kualitasnya
sama.
Bahkan GGP pernah juga mengemas untuk Dole
dan Del Monte,"
tutur Lucy.

Sederet perusahaan lain seperti Hartindo (produsen zat
fire safety yang bahannya organik dan ramah
lingkungan, bukan halon), Grup Musim Mas (bergerak
di bisnis CPO), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk,
PT Panarub Industries (mitra Adidas dalam memproduksi
sepatu bola), PT Sorini (produsen sorbitol dan
penantang serius dari perusahaan Roquette, Perancis),
PT Sari Makmur (eksportir kopi, pemasok terbesar
Starbucks),
bisa dibilang tidak dikenal. Tapi prestasinya
mantap.
Keberhasilan mereka bukanlah hal yang main-main.
Kualitas produk, layanan, proses produksi, manajemen
perusahaan kelas kakap mereka menjadikan mereka layak
bersanding dengan pemain kelas dunia. Kerja keras,
disiplin, fokus pada core bisnis, dan perbaikan
mutu tiada henti adalah kunci sukses mereka.

Jadi, diam-diam, produk Made in Indonesia
dipandang dengan serius oleh dunia.

Di saat sebagian orang merasa pesimis dengan nasib
bangsa ini, kehadiran pengusaha-pengusaha dengan
mental baja dan ulet tadi seperti angin segar.
Tanpa basa-basi atau niatan mencari popularitas,
rata-rata mereka bisa meraih posisi lima besar
dunia dan mengharumkan nama bangsa di kancah
dunia. Sebagian besar dari mereka bergerak di
bidang sumber daya alam atau berbasis sumber
daya alam; suatu kekayaan yang memang berlimpah
di negeri ini. Ini adalah bukti bahwa kita
bukan bangsa kelas dua. Asal punya kemauan dan
kegigihan, jadi nomor satu di dunia rasanya
bukan sekedar mimpi.

Ah..., Indonesia. Tanah air yang kucinta.
Alhamdulillah...
Indonesia... tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia... sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa...

[This writing could not exist without the courtesy of

SWA sembada magazine, ed.25/XXIII/Nov 22nd-Dec
5th 2007 and ed.21/XXIV/Oct 9th-22nd 2008]


To Give, Share, and Inspire
[Sari Alessandra]


Wednesday, September 16, 2009

Meretas Masa Depan, Menjejak Masa Kini

Ada yang hilang dari hari-hari saya ketika saya tidak menulis di jurnal harian saya.

Kalau dihitung-hitung, sejak tahun 2009, yang saya lakukan adalah menempel tiket bioskop, bon pembelian, bon restoran, tiket perjalanan, dan tempelan-tempelan lainnya, yang menandakan peristiwa-peristiwa berkesan dari hari-hari saya.

Saya kadang merasa kehilangan. Tapi lebih sering merasa kalau menuliskan kegiatan harian itu tidak terlalu penting lagi sekarang. Entahlah, kadang rindu menulis, kadang tidak.

Kesibukan menelan saya. Dan saya kehilangan tempat untuk bercerita tentang hal-hal yang (mungkin) hanya saya yang mengerti.

Blog saya biarkan selama berbulan-bulan. Padahal blog adalah tempat terbaik untuk berbagi cerita tentang saya di dunia maya. Hhhhh...., jadi kangen menulis lagi.

Mudah-mudahan ini jadi awal.

Friday, November 07, 2008

My New Hang Out Place

You know, the reason I'm not being around lately is because I post my story here, my new blog. So, yeah, check any updates from me in that blog.

Thank you for being so kind visiting my blog ^^

Monday, August 11, 2008

Gimana Cara Kamu Belajar Bahasa Inggris?

[Untuk membaca versi bahasa Inggris tulisan ini, silahkan klik di sini.]

Beberapa orang pernah nanya gitu ke saya. Atau semacam itulah.

Mereka tampak heran ketika mengetahui saya bisa cas-cis-cus berbahasa Inggris. Saya malah heran mengetahui mereka heran terhadap saya.

Kayaknya gak segitunya deh.

Seorang teman bilang ke kakaknya kalau saya pernah tinggal di luar negeri (makanya saya bisa bahasa Inggris). Padahal saya belum pernah! (Bingung juga saya; dapet ide dari mana dia?) Mungkin karena itulah kakaknya percaya banget ke saya dan minta tolong ke saya untuk nerjemahin beberapa bahan TA dia (jurnal psikiatri lho). Sekitar lebih dari sepuluh jurnal gitu.

Itu sih banyak banget!

Teman saya yang lain yang sedang kuliah di Melbourne pernah sms-an sama saya. Saya lupa dia nanya tentang apa. Yang saya inget saya ngejawab dengan bahasa Inggris. Balesan sms dia begini: “Wah, bahasa Inggrisnya bagus banget.”

“...”

Saya bingung.

Saya bales lagi begini: “Kayaknya salah deh. Justru kamu yang bahasa Inggrisnya (mestinya) lebih bagus dari saya. Kan tiap hari ngomong pake bahasa Inggris? Saya jarang-jarang nginggris di sini.”

“Tapi teteh pede menggunakannya! Kesannya emang jago.”

“Oh.., oke. Terserah deh...”

Trus ada kejadian aneh lainnya. Waktu itu di Salman ada diskusi terbatas tentang masalah agama. Yang jadi pembicara adalah tiga orang mahasiswa Amerika yang juga sedang ikutan sekolah misionaris. Mereka lagi maen ke Bandung selama di Amerika lagi summer. Teman-teman yang aktif di The Center (tempat untuk belajar bahasa Inggris) jalan Setiabudi yang mengundang mereka ke Salman ITB. Terbatas di Salman aja diskusinya.

Wah, menarik nih, pikir saya. Saya ikutan diskusi itu dan ternyata banyak orang di Salman yang juga tertarik untuk ikutan. Sang moderator adalah teman dari The Center yang disiapkan untuk jadi penerjemah. Pas sesi tanya-jawab, saya langsung bertanya dengan bahasa Inggris.
Belum beres saya ngomong, salah satu dari pembicara itu motong sambil ngomong gini: "Wow, your English is goood...,” dengan nada heran campur terpesona.

Di depan seratusan orang.

"..."

Saya bengong sesaat.

Sumpah! Gak ada hubungannya dengan pertanyaan saya. Saya kan jadi malu.

Dalam hati saya mikir, Emang gak pernah ketemu dengan orang Indonesia yang bisa bahasa Inggris yak? Atau jangan-jangan dia pikir orang Indonesia gak ada yang bisa ngomong dengan bahasa Inggris kalee?

Jadi tambah bingung...

Saya sama sekali gak bermaksud nyombong. Tapi mereka yang saya sebutin tadi menganggap bahasa Inggris saya bagus... Banget!

Kayaknya gak gitu-gitu amat deeh...

Gak ada yang istimewa sih dalam cara saya belajar bahasa Inggris. Sama aja kayak kebanyakan orang. Kadang, kalo ditanya gimana saya belajar bahasa Inggris dan di mana, saya sebenernya pengen nanya balik, “Emang kamu belajar bahasa Inggrisnya gimana dan dimana seh? Saya gak beda jauh kok...”


(Tapi cuma nanya dalam hati, demi alasan kesopanan ^_^)

Jawaban formal saya biasanya gini: “Dulu pernah ikutan kursus di LIA (gak dibayar untuk ngiklan soalnya) pas SMA.” Maksudnya, dari situlah saya belajar bahasa Inggris.

Entah mereka percaya atau enggak.


***

Dulu

Saya menganggap diri saya belum menguasai bahasa Inggris dengan baik sampai tingkat dua kuliah. Sebelum itu, saya belajar bahasa Inggris di sekolah dengan cara yang sama dengan banyak siswa lain: membaca paragraf atau cerita dalam bahasa Inggris, menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan bacaan, belajar tata-bahasa (tenses) sedikit-sedikit, latihan menggunakan tata-bahasa tersebut, menambah perbendaharaan kata, dan seterusnya. Cara yang tradisional, kaku, dan parsial menurut saya.

Sedikit banget ada kesempatan untuk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris di sekolah. Kalau ada bahan percakapan di buku, paling guru cuma nyuruh beberapa murid untuk ngebacain keras-keras. Menurut saya, metode belajar bahasa Inggris itu cuma mengasah kemampuan teknis dan dasar. Dasaaaaaaaar... banget.


Membosankan. Dan lambat.

(Makanya banyak lembaga kursus bahasa Inggris yang laku ^_^ )

Maksud saya, gimana siswa Indonesia bisa bersaing kalo cara belajar bahasa Inggrisnya gitu-gitu aja?

Kenyataannya, sewaktu kuliah, saya masih kesulitan untuk membaca buku teks matematika dalam bahasa Inggris. (“Membaca saja sulit...”) Skor TOEFL saya cuma sedikit di atas angka 500 (TOEFL institusional lho, skala ITB ajah, yang gak pake tes wawancara, dan juga gak pake tes English writing, satu kemampuan yang dianggap paling ‘atas’ dalam bahasa Inggris). Saya juga masih rada gagap kalo disuruh ngomong dalam bahasa Inggris. Kalo mau ngomong, masih kebanyakan “eem” atau berhenti di tengah jalan.

Rasanya belum cukup deh. Saya pengen banget punya skor TOEFL (internasional) di atas 600, juga bisa cas-cis-cus dengan nyaman sama bule, dan bisa membaca dengan mudah buku-buku berbahasa Inggris. Bisa menulis buku dalam bahasa Inggris, kayaknya..., ide yang cukup keren. Pokoknya, menguasai bahasa Inggris dengan sangat baik (seperti teman saya
Ikram—hehe... Halo, Kram?).

Saya benar-benar perlu sebuah lompatan dalam mempelajari bahasa Inggris.

***

Akhirnya...

Saya mempelajari bahasa Inggris dengan cara yang, bisa dibilang, santai dan menyenangkan.

Sewaktu saya masih tingkat dua, sekitar tahun 2003-an, saya memaksa diri untuk membaca novel Stephen King yang berjudul “Four Past Midnight”. Isinya adalah empat cerita misteri: “The Langoliers”, “Secret Window” (udah difilmkan lho, yang jadi pemeran utamanya Johnny Depp), “Library Police”, dan “Sun Dog”.

Saya cuma sanggup baca dua cerita pertama aja. Itupun dengan gambaran samar-samar tentang isi ceritanya. Banyak kata-kata yang belum saya ketahui artinya. Tapi saya teteep nerusin baca, gak peduli ngerti atau enggak. Hajar bleh! aja pokoknya.

Saya juga baca beberapa buku lagi dalam bahasa Inggris waktu itu. Semakin banyak saya baca, makin lumayan pengertian saya tentang isi buku. Saya juga ngebaca buku anak-anak. Buku DONGENG, sodara-sodara! Setelah saya ngebaca buku itu, saya sadar bahwa kemampuan bahasa Inggris saya setara dengan anak umur sembilan tahun yang memang hidup di negara berbahasa Inggris.

Jadi, saya memang masih ‘anak-anak’ dalam bahasa Inggris. Tapi memang begitulah cara saya belajar bahasa Inggris: seperti anak-anak belajar bahasa. Diawali dengan memperhatikan dan meniru orang lain dalam berbicara. Trus saya mencoba untuk membaca bahan bacaan yang sederhana (apa lagi kalau bukan buku anak-anak?) dan ber-GAMBAR. Bagian 'bergambar' iini penting. Dengan buku bergambar (ya buku anak-anak), pemahaman kita terhadap kalimat dalam bahasa Inggris menjadi lebih luas. Seringkali, ketika kita membaca arti suatu kata dalam kamus, kita masih perlu mengira-ngira maksudnya apa dan penempatannya bagaimana. Maksud saya, satu kata itu bisa bermakna ganda. Dengan adanya gambar, kita bisa mengerti apa 'konteks' dari penggunaan suatu kata atau istilah.

Nah, sekarang, bagaimana caranya supaya saya ngerti kalo ada bule yang ngomong dan bisa menimpali dikit-dikit?

Alhamdulillah ada banyak banget lagu dan film yang bisa dijadikan media belajar. Saya belajar cara mengucapkan kata-kata dari ngedengerin artis bernyanyi. Niru aja, niru. Sementara itu saya belajar untuk memahami omongan orang bule--kebanyakan--lewat film (terima kasih untuk para Rilekser di ITB \\ ^o^ // ). Ya, cuma itu. Tentunya tanpa teks bahasa Indonesia di layar. Kalo teksnya bahasa Inggris, mendingan lah. Oh iya, siaran berita bahasa Inggris Metro TV juga membantu banget.


Tapi kok bisa, cuma lewat lagu dan film aja? Coba deh, diinget-inget. Kalo kita nonton film barat yang ada teks bahasa Indonesia, mata kita cenderung mengarah ke teks, bukannya merhatiin filmnya dengan detail. Kadang antara teks dengan apa yang diucapin aktor-aktrisnya gak persis sama. Kadang penerjemahnya ngaco juga dalam nerjemahin (saya juga baru tau belakangan, hehe...).

Karena nonton film dengan teks bahasa Indonesia itulah, kemampuan kita memahami pembicaraan orang bule tetap minim. Soalnya pas nonton bukannya ngedengerin yang diomongin (mengerahkan telinga), kita malah merhatiin terjemahan (dengan mata). Padahal mungkin udah bertahun-tahun kita nonton film barat. Pas gilirannya praktek (ketemu bule beneran), kita masih tertatih-tatih untuk bisa memahami omongannya. "Ngomongnya cepet banget", menurut kita. Yaah, orang yang masih belajar sih emang bakal ngomong gitu.

Makanya, saya bersyukur kalo ada film yang gak ada teks bahasa Indonesianya. Saya jadi lebih fokus untuk mendengarkan pembicaraan dalam film. (Saya sering bilang ke teman-teman untuk nonton film barat tanpa teks kalau mereka mau cepat menguasai kemampuan listening mereka. Ngedengerin lagu barat gak cukup.) Sekali lagi saya tekankan: hajar bleh! Ngerti gak ngerti, hajar bleh!

Sekarang kemampuan menulis dalam bahasa Inggris. Kemampuan menulis saya dalam bahasa Inggris diasah lewat ketidak-sengajaan sebenarnya. Ya lewat teman-teman saya yang minta tolong. Mereka, yang kemampuan bahasa Inggrisnya lebih minim dari saya, minta saya untuk menerjemahkan bahan kuliah mereka. Karena saya agak susah nolak permohonan orang yang lagi kepepet begitu, saya mengiyakan aja biasanya.

Sewaktu menerjemahkan, saya benar-benar membutuhkan kamus Inggris-Inggris. Harus begitu. Soalnya menerjemahkan itu bukan sekedar ‘mengartikan’ saja. Kita perlu menyusun arti kalimat sudah kita peroleh, trus kita bentuk kalimat tadi dengan struktur logika yang benar dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu saya perlu tahu definisi dari berbagai istilah dalam bahasa Inggris. Setelah tahu, saya dengan mudah bisa menemukan padanan kata atau frasenya dalam bahasa Indonesia. Contohnya ini:



prowl·er [prówler]
(plural prowl·ers)
noun

1. somebody prowling with unlawful intent: somebody who moves stealthily around an area looking for an opportunity to commit a criminal act (seseorang yang menyelinap dan berputar-putar dalam sebuah area, mencari kesempatan untuk melakukan tindak kriminal)
Kalau kita tahu definisi dari ‘prowler’ di atas, tentunya kita punya perkiraan tentang apa artinya kan? Dalam bahasa Indonesia, gak ada padanan persisnya selain ‘penjahat’ atau ‘kriminal’. Tapi frase ini mungkin cocok untuk mengartikan 'prowler': ‘penjahat yang lagi cari kesempatan’.

Selain itu, lewat kegiatan menerjemahkan jurnal, saya juga belajar bagaimana menggunakan tata-bahasa Inggris dengan benar. Lha wong yang saya terjemahin jurnal atau buku teks semua. Ya terpaksa. Terpaksa jadi pinter grammar, hehe...Pastinya jurnal-jurnal itu ditulis dalam tata bahasa yang sangat formal dan sangat benar. Oleh karena itu kegiatan menerjemahkan bisa dijadikan media belajar tata bahasa Inggris yang sangat bagus.

Nah, kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris datang saat teman saya dari Planologi menawarkan pekerjaan sebagai guru les privat matematika. Muridnya sekolah di Bandung International School (BIS). Syaratnya, si pengajar mesti dari jurusan Matematika (gampaaang...) dan bisa mengajar dalam bahasa Inggris (lumayan, udah pernah sekali).


Syarat yang kedua ternyata benar-benar diperhatiin sama ortu murid. Soalnya saya pake diwawancarain dengan bahasa Inggris segala sama guru ngajinya anak itu. Awalnya saya kira karena anak itu sekolah di BIS dan memang mesti menggunakan bahasa Inggris. Ternyata karena memang anaknya berkebangsaan Inggris! (Bule, bule...)

Waktu itu murid saya ini masih kelas tujuh (masih saya ajar sampe sekarang). Perempuan. Walaupun ngakunya dia menggunakan aksen British standar, saya kadang teteeep aja masih gak nangkep apa yang dia omongin. Saya aja yang masih belajar untuk menangkap pembicaraan bule Amerika dengan baik, merasa terpojok. Saya mikir: Ya Allah! Cara ngomongnya yang kayak orang ‘kumur-kumur’ itu loh. Gak jelas!


Tapi proses belajar matematikanya berjalan lancar kok. Meski awalnya saya masih pakai bahasa Inggris ala tarzan untuk berkomunikasi.

Contohnya gini. Dia pernah mengucapkan ‘our town’ seperti pengucapan ‘athan’ (azan). Gini nih caranya: “Aaw... thaan,” tanpa kedengeran bunyi ‘r’ di kata ‘our’ dan bunyi ‘w’ di kata ‘town’. Saya harus bilang, “Sorry?” sampe tiga kali baru saya ngerti apa yang dia omongin. Saya baru ngerti kalo yang diomongin ini: “Awwer... thaawn”.


Masya Allaaah!

Well, lama-lama biasa kok. Haruus... Gimana bisa komunikasi dua arah kalo sayanya gak ngerti-ngerti?

***

Intinya Sih...

Kesimpulannya, selama lima tahun terakhir, dengan santai, saya belajar bahasa Inggris:
1. dengan membaca buku-buku fiksi bahasa Inggris
2. lewat lagu dan film
3. pas saya ngajar siswi BIS tadi
4. pas saya nerjemahin bahan-bahan kuliah teman

Saya sangat bersyukur karena saya mendapatkan banyak sekali kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya. Saya bisa belajar sendiri sambil langsung mempraktekkan. Gak perlu bayar apa-apa lagi (kecuali kalo saya beli buku atau kaset). Malah saya dibayar karena udah nerjemahin buat teman dan mengajar matematika, hehe... Itulah sebabnya saya menyebutnya ‘belajar bahasa Inggris dengan menyenangkan'. Memang kadang ‘terpaksa’ untuk bisa. Tapi asyik kok.

Jadi, bagaimana dengan cara anda belajar bahasa Inggris?