Tuesday, July 03, 2007

Merevisi Persepsi Tentang 'Pembantu"


Siapa yang tidak pilu melihat rupa Ceriyati setelah dia melarikan diri dari majikannya?



Sang Majikan Ceriyati sendiri.

Bila Sang Majikan memiliki rasa pilu sedikit saja, tentu mereka tidak akan sampai hati meletakkan tangan di tubuh Ceriyati, sedikitpun.

Ceriyati tidak sendiri. Ceriyati bukan yang pertama. Ada ribuan Ceriyati lain di luar sana, dengan nasib tak kalah memilukan. Tapi, sampai saat ini, Ceriyati-Ceriyati itu baru bisa berpuas diri dengan perhatian Kedubes RI, penampungannya, serta jaminan kepulangan ke tanah air. Dengan banyaknya kasus tak tuntas semacam ini, lama-kelamaan kisah kehidupan TKI hanyalah berita basi. Terulang lagi..., terulang lagi.

Bila menggunakan analisis dingin, mungkin majikan Ceriyati: 1) merasa kekayaan, status, harkat, derajat, martabat, IQ-nya lebih tinggi dari pembantunya, 2) memahami makna ‘pembantu rumah tangga’ sebagai budak yang bisa diperlakukan seenaknya. Dua alasan tadi nampaknya digunakan majikan Ceriyati sebagai pembenaran dari tindakan kejamnya.

Sampai sekarang, saya tidak habis pikir: bagaimana bisa seseorang berlaku sekejam majikan Ceriyati? Saya tidak pernah bisa mengerti, bagaimana mungkin seseorang bisa meletakkan tangannya pada orang lain secara zalim? Bagaimana bisa seseorang dipandang dan diperlakukan rendah lantaran dia mengerjakan urusan rumah tangga yang belum tentu bisa dikerjaan sang Majikan?

Saya belum menemukan logika dari tindakan yang merendahkan pembantu yang bekerja mengurus rumah tangga (ataupun pemilik pekerjaan kasar lainnya). Ada yang bisa membantu?

Ada yang tahu istilah ‘pembantu rumah tangga’ dalam bahasa Melayu? Sudah sejak lama saya penasaran dengan istilahnya serta bagaimana istilah itu dimaknai di Malaysia. Sebenarnya bukan hanya istilah Melayu saja. Saya juga penasaran, istilah apa yang digunakan orang Arab untuk menyebut para TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga mereka.

Ingin tahu saja, adakah konotasi atau mungkin nilai rasa negatif. Sungguh, dari istilah ‘pembantu’ dalam bahasa Indonesia, saya tidak menemukan sedikitpun makna yang bisa membenarkan tindakan majikan Ceriyati. ‘Pembantu’ yang pembantu, orang yang bantu-bantu. Senang gak sih kalau ada orang yang membantu meringankan pekerjaan kita?

Coba tengok jabatan ‘Purek’ alias Pembantu Rektor. Pemangku jabatan itu kan ‘pembantu’ juga. Tapi kenapa ya, saya belum pernah mendengar tindakan merendahkan dari Rektor pada Purek? Bila profesi pembantu profesi yang hina, kenapa Purek tidak pernah melarikan diri ke Polisi akibat dikasari atasannya? Apalagi sampai dibuat babak belur semacam Ceriyati.

Menilik fungsinya, pelayan dan butler di rumah-rumah bangsawan atau orang kaya Inggris juga ‘pembantu rumah tangga’ kan? Mereka mengurus segala hal, mulai dari menyiapkan makanan, bebersih, menata meja makan, mengurus pakaian, hingga menerima tamu. Namun citra pelayan Inggris ini begitu terhormat dan tinggi. Kenapa sih para TKI yang bekerja di luar negeri, yang sudah memberikan pemasukan devisa cukup besar bagi RI, tidak dibantu untuk memiliki citra seperti itu?

Keprihatinan saja tidak cukup. Ucapan janji dari pemerintah tidak akan bisa mengganti pengalaman buruk yang telah didapat para TKI, secara fisik maupun psikologis. Para TKI itu bekerja mencari nafkah secara halal, bukannya korupsi atau mencuri.

Yah, paling enggak mereka dibantu dengan serius lah... Misalnya dengan memahami makna ‘pembantu rumah tangga’ yang sebenar-benarnya, tanpa mengikutsertakan persepsi serta paradigma keliru kita—apalagi kalau bukan akibat dari kesombongan?

Beneran lho, menurut saya, definisi yang kabur dari istilah ‘pembantu rumah tangga’ sedikit banyak berperan pada nasib buruk para TKI kita. Jadi, ada baiknya bila para majikan melakukan redefinisi dari ‘pembantu rumah tangga’. Bila definisinya sudah dikembalikan ke ‘jalan yang benar’, mudah-mudahan persepsi para majikan berubah. Yakinlah bahwa setiap orang berbuat sesuai dengan persepsinya. Bila sang Majikan berlaku kejam pada Ceriyati, anda bisa mengira-ngira bukan, apa yang menjadi persepsinya?



per·cep·tion [pər sépshən]

(plural per·cep·tions)

noun

1. perceiving: the process of using the senses to acquire information about the surrounding environment or situation

· the range of human perception

2. result of perceiving: the observation or result of the process of perception

· After watching the experiment closely, he noted his perceptions in his lab notebook.

3. impression: an attitude or understanding based on what is observed or thought

· a news report that altered the public’s perception of the issue

4. powers of observation: the ability to notice or discern things that escape the notice of most people

5. psychology neurological process of observation and interpretation: any of the neurological processes of acquiring and mentally interpreting information from the senses

[14th century. Via Old French from the Latin stem perception- , from percipere (see perceive).]

Microsoft® Encarta® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Sunday, June 24, 2007

Yang Hilang

Lima tahun yang lalu saya menginjakkan kaki ke Bandung. Paris van Java... Tempat yang menjanjikan sejuta harap, kesejukan, kesegaran, bagi kehidupanku yang terasa makin gersang di Jakarta--lupakan!

Barusan saya cuma cuap-cuap sentimentil dan mendayu-dayu aja, ketika mengingat saat pertama kali ke Bandung.

Sebagai pendatang baru di Bandung, banyak yang harus dipelajari. Termasuk bahasa Sunda, yang terdengar seperti rentetan omelan denga nada menari-nari, di telinga yang terbiasa mendengar logat Betawi. Belum lagi trayek angkot, makanan khasnya, plus tata sosial yang kental bernuansa Sunda.

Ambil contoh makanan. Saya terheran-heran ketika melihat ada cabe yang menyerupai tapi berwarna hijau muda seperti tomat mentah, dan berukuran kecil. Cabe gendot namanya. Huruf 'e'-nya dibaca seperti dalam kata 'pepes', bukan 'peuyeum'. Itu baru satu. Yang membuat saya lebih heran adalah ketika melihat kacang merah disayur!

Beneran, itu aneh. Saya sebagai orang Sumatera hanya mengenal asosiasi 'manis' buat kacang merah. Ya, di Sumatera, kacang merah digunakan sebagai bahan es campur. Kacang merah direbus dalam air gula, kadang diberi warna merah supaya makin cantik. Atau...., kacang merah dibuat bubur. Tapi saya jarang mendengar ada yang membuat bubur kacang merah.

Disayur? Bener-bener baru buat saya. Bukannya gak enak sih... Aneh aja...

***

Sekarang adat istiadat atau tata sosial di Bandung. Karena ukurannya lebih kecil dan didominasi budaya Sunda, wajar kalau orang Bandung jauh lebih 'terasa' ramah dibandingkan dengan orang Jakarta. Seramah-ramahnya orang Jakarta, masih kalah ramah dari orang Bandung saat pertama kali bertemu di jalan (artinya tidak saling kenal sama sekali).

Belum lagi dengan kebiasaan mengatakan "Punteun" di saat kita melewati orang di pinggir jalan, tidak peduli kita kenal atau tidak. Semua itu mencengangkan saya. Sungguh suatu bentuk keramahan dan kekeluargaan yang luar biasa (untuk ukuran orang Jakarta). Sungguh, saya belajar bertata-krama yang sopan (sekali) dari orang Sunda.




Tapi bukan berarti yang 'tidak sopan' tidak ada. Banyak juga yang tidak mencerminkan citra orang Sunda ideal. Biasanya anak-anak muda yang rada longgar dalam tata krama. Saya terkejut ketika mendapati ada mahasiswa Institut Gajah Duduk yang berceloteh santai menggunakan kata 'anj#*&@' berkali-kali. Gille beneerrrr, komentar saya dalam hati, menurut versi orang Betawi.



Sepreman-premannya gaya orang Jakarta, pelajar terutama, yang bisa ngomong 'anj#*&@' sering-sering itu adalah yang kasar banget, yang hidupnya memang 'pinggiran' banget. Menurut nilai rasa orang Jakarta (saya), 'anj#*&@' adalah umpatan yang sangat, sangat kasar. Kalaupun disebut, tidak sesering di Bandung (oleh pemuda tertentu).

Itu mahasiswa lho, dan mahasiswa dari Institut yang katanya berisi otak-otak terbaik di negeri ini. Tapi ternyata 'otak terbaik' itu cuma dari segi kemampuan berpikir, tidak secara keseluruhan, termasuk pribadi yang berbudi pekerti tinggi. Kalau di tempat seperti Institut Gajah Duduk saja begitu, bagaimana yang tidak di sana? Seperti di daerah Cicadas, tempat yang terkenal karena dulunya 'kawasan preman bagaimana?

Yah, saya pernah iseng menghitung, berapa kata 'anj#*&@' yang keluar dari mulut anak-anak umur 11 - 17 tahun di sekitar tempat kos saya. Alhasil, dalam satu menit, terucap kata 'anj#*&@' sepuluh sampai dua belas kali. Keren kan? Rata-rata setiap lima hingga enam detik sekali keluar kata 'anj#*&@'... Angka yang sama berlaku untuk percakapan antar teman (laki-laki biasanya) di angkot. Angka ini membuat saya berpikir, memangnya mereka gak punya kosakata lain ya? Gawat, ini gara-gara guru Bahasa Indonesianya atau gara-gara pergaulan?

***

Lima tahun kemudian, saat ini, saya bisa merasakan perubahan tata sosial di dalam masyarakat Bandung. Generasi muda yang saat saya tiba di Bandung masih duduk di bangku SD, sekarang sudah beranjak remaja. Saat mereka SD, arus globalisasi sedang gencar-gencarnya, membanjiri mereka dengan segala konsep, budaya, gaya hidup Barat, BAIK DAN BURUK. Sayangnya, dengan tipisnya lapisan 'tengah*' di Indonesia, yang berisi kaum intelek, pemikir, lulusan perguruan tinggi, jangan heran kalau yang sekarang mendominasi dari segi jumlah adalah anak-anak muda yang "Barat Wannabe".

Tidak banyak yang bisa lolos dari sergapan pengaruh Barat, sehingga mereka melupakan identitas diri mereka (sebagi orang Indonesia) dan tidak bangga menjadi orang Indonesia. Mereka bangga dengan label dan gaya hidup Barat, yang dijiplak mentah-mentah. Bila, mungkin, yang sedang populer di film-film adalah punya mobil pribadi, barangkali mereka akan setengah mati ingin punya mobil.

Kondisi ini jelas sangat saya rasakan. Keacuhan generasi muda Bandung (meski tidak semua) makin tinggi. Mereka makin cuek, makin hedonis, dan makin sudah untuk berkata "Punteun" saat lewat di depan orang lain DAN menjawab sapaan "Punteun" dari orang lain. Sesuatu yang tadinya merupakan ekspresi kekeluargaan dan keakraban, makin lama makin memudar. Kata "Punteun" tidak lebih dari sekedar basa-basi tidak perlu. Kalau tidak bisa dikatakan 'yang hilang', yah, katakanlah berkurang di generasi muda.

Entahlah. Ini penilaian saya sebagi orang Jakarta. Sungguh, tinggal di Bandung menjadikan saya lebih lembut dan empatik. Tapi tidak demikian halnya dengan orang Bandung sendiri (generasi muda). Mungkin karena mereka hidup di tengahnya, dan merasa bosan menjadi bagian dari masyarakat yang bertata-krama, mereka ingin sekali-kali merasakan 'pemberontakan'. Mungkin.

***

Cuaca Bandung benar-benar mendukung musim kering: matahari terik bersinar, seolah jaraknya semakin dekat dengan bumi. Pepohonan di daerah jalan Diponegoro ditebangi--yang katanya untuk alasan keamanan, lantaran beberapa pohon tua sempat ambruk diterjang angin. Lama-kelamaam, kesejukan khas Bandung yang biasa saya rasakan, kadang dingin yang menggigit, tak peduli musim hujan atau bukan, menghilang. Ini baru kesimpulan saya sebagai pengamat awam, bukan ahli cuaca. Kadang gerah yang terasa tidak bisa dibedakan dari gerahnya Jakarta.




Dengan semakin banyaknya yang hilang dari Bandung, saya bertanya-tanya. Apakah ini memang alami--sesuatu yang memang mesti terjadi di satu waktu, atau ini adalah akibat dari abainya manusia terhadap yang dimiliki? Saya tidak berharap penduduk Bandung baru menyesal justru ketika mereka sudah lama kehilangan. Tipikal manusia...



*Kita bicarakan lain waktu aja soal 'lapisan bawah', 'tengah', dan 'atas' yang saya maksud. Klasifikasi ini berdasarkan taraf pendidikan, intelektualitas, dan ekonomi.

Definisi & Kerangka Berpikir

Apa itu ‘definisi’? Untuk bisa menerangkan konsep saya tentang ‘definisi’, saya tidak akan langsung mendefinisikannya. Akan lebih mudah bila saya menerangkannya begini saja: Definisi akan sesuatu itu, ternyata berisi tentang apakah sesuatu itu, gambaran tentang sesuatu itu, cakupan, serta batasannya. Secara eksplisit, tidak semua definisi memiliki semua poin yang saya paparkan barusan. Namun bila pembaca mau mencermati baik-baik, secara tersirat definisi sudah mencakup keempat poin tadi.

Nah, sekarang kita masuk ke ‘kerangka berpikir’ atau ‘paradigma’.

Kerangka berpikir seseorang dibangun oleh apa yang digunakannya sebagai ‘bata-bata definisi’. Contohnya begini: kalau sejak awal yang seseorang definisikan sebagai ‘warna hitam’ adalah warna merah yang kita kenal, maka setiap kali melihat warna merah, dia akan mengenalinya sebagai ‘warna hitam’. Tak peduli orang lain mau berteriak-teriak di telinganya hingga hilang akal, kalau dia mendefinisikan ‘warna hitam’ adalah warna merah yang kita kenal, malah dia yang akan menganggap orang lain gila.

Setiap orang memakai atau membuat definisinya sendiri. Itulah yang terjadi di dunia ini, disadari atau tidak. Namun dunia ini tidak sampai kacau karena ada ‘bata-bata definisi’ dasar yang bisa dimengerti dan diterima oleh banyak orang. Kenapa? Karena ‘bata-bata definisi’ itulah yang dialami oleh setiap orang. Contohnya begini: lewat pengalaman, akhirnya setiap orang mengetahui bahwa dia pasti jatuh terhempas kuat ke tanah, bila dia terjatuh/melompat dari atap sebuah gedung. Tak peduli dia orang baik ataupun orang jahat. ‘Bata-bata definisi’ dasar inilah yang biasa kita sebut ‘hukum (alam)’.

Seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia, ‘definisi’ makin intens diteliti, sehingga struktur yang ada dalam definisi itu terungkap dengan gamblang. Manusiapun makin mengerti tentang definisi dasar dan turunannya yang terjadi pada diri, lingkungan, tempat hidup, dan keseharian mereka. Dengan mengenali definisi yang berlaku pada (atau yang digunakan oleh) diri mereka, manusia makin mengenali diri mereka sendiri. Bisa dikatakan, sedikit banyak definisi-definisi inilah yang ‘membentuk’ seseorang.

[Tapi di sini saya tidak sedang berupaya untuk mendefinisikan manusia. Manusia masih terlalu kompleks untuk bisa saya definisikan sendiri. Oleh karena itu, saya menggunakan definisi yang diberikan oleh pencipta manusia saja.]

Saya akan memberi sebuah contoh berkenaan dengan pengaruh definisi terhadap kerangka berpikir seseorang. Saya pernah menemui orangtua yang sedikit-sedikit menyebut anaknya bodoh. Mulai dari karena anaknya tidak terlalu pandai dalam matematika, hingga karena anaknya ceroboh dalam membawa piring makannya, sehingga terjatuh dan pecah. Kalau hanya itu saja, mungkin kondisi anaknya sedikit ‘lebih baik’. Tapi beliau menambahkan ucapan bodohnya dengan entah cubitan, tempelengan, atau dorongan keras. Terlalu emosional nampaknya orangtua kita yang satu ini.

Bila anda sempat melihat tulisan Bodoh vs Bijaksana, anda bisa melihat bahwa beliau memiliki definisi ‘bodoh’ yang kabur, tidak terlalu jelas. Saat anaknya dinilai tidak terlalu pandai dalam matematika, wah, yang ini sih sudah jelas: si Anak tidak terlalu pandai dalam matematika. Si Anak bukannya bodoh. Dia (sudah tertulis jelas dari tadi) hanya tidak terlalu pandai matematika (atau mungkin malah belum saja?). Mungkin si Anak hanya perlu diajari matematika dengan metode lain.

Saat anaknya kurang hati-hati membawa piring, beliau menyebutnya bodoh lagi. Padahal yang terjadi adalah anaknya ceroboh, belum tentu bodoh. Kalau ‘tidak pandai’ dan ‘ceroboh’ disamakan dengan ‘bodoh’, saya curiga bahwa yang didefinisikan beliau sebagai ‘bodoh’ adalah segala hal yang dianggap tidak beres dari anaknya. Kesimpulan beliau: anaknya memang bodoh (karena apa yang dilakukannya tidak ada yang beres/sempurna). Padahal mah, rasanya pemahaman beliau tentang kata ‘bodoh’ dan anak yang perlu diperbaiki. Hm...hm...hm... Oke, saya memang belum menikah apalagi menjadi orangtua. Tapi tanpa pengalaman itupun saya mengerti bahwa seorang anak adalah seorang anak. Kalau kita mengharapkan seorang anak bisa melakukan segalanya segera setelah lahir, apa gunanya orangtua dan pendidikan kalau begitu?

Kembali ke masalah definisi. Melalui contoh barusan, saya ingin menyampaikan tentang pentingnya kita mengecek definisi yang kita gunakan sebagai landasan berpikir. Saat definisinya kabur, tidak jelas batasannya, pikiran kita akan sulit mengenali perbedaan antara dua hal. Ibaratnya mata kita menderita rabun jauh, tapi kacamata yang kita gunakan adalah untuk yang rabun dekat. Mana bisa kelihatan? Kerangka berpikir kita pun terbentuk tidak dengan baik, tidak tertata, bahkan kacau. Ujung-ujungnya, persepsi kita keliru, kesimpulan kita jauh dari benar. Dan sayangnya, karena kita bertindak menurut apa yang ada dalam pikiran kita. Jadi tindakan kita bisa menjadi tidak tepat atau keliru.

Selain mengecek definisi yang kita gunakan, kita juga harus mengecek sejauh mana kita memahami definisi itu. Kita harus betul-betul cermat tidak hanya pada definisinya, tapi juga pada pemahaman kita akan definisi itu. Bisa saja kita menggunakan definisi yang benar, tapi pemahaman kita keliru. Itu sama saja dengan ‘membuat definisi sendiri’.

Sebagai penutup, saya ingin bercerita sedikit. Belakangan ini saya dibanjiri ide dan ilham yang berkaitan dengan dua kata, ‘definisi’ dan ‘kerangka berpikir’. Beberapa pemikiran berputar di kepala saya, siap untuk ditulis. Beberapa tulisan saya setelah ini mungkin tidak memiliki topik yang serupa. Tapi benang merahnya jelas: semuanya berkaitan erat dengan bagaimana kita menggunakan dan memahami definisi serta kerangka berpikir yang dihasilkannya. Tunggu saja. Dan anda akan melihat benang merahnya. Semoga...

Thursday, May 24, 2007

Bagaimana Kau Mengingat Kematian?

Berawal dari blog pejalanjauh. Ketika melihat komentar Sang Pejalan Jauh ini, saya tertarik untuk bersua ke blognya. Melihat catatan-catatan perjalanannya, kesan tertinggal di hati ini. Kemudian aku terhenti di catatan tentang Bukan Pasar Malam dan Sang Pengguratnya, Pramoedya Ananta Toer. Pun kemudian aku melihat catatan tentang Irwan Kurniawan, adik dari Sang Pejalan Jauh.

Entahlah, mungkin karena Pram, atau mungkin karena keindahan karyanya, atau karena kepergiannya, atau karena dua catatan beriring tentang kepergian Irwan, adik Sang Pejalan Jauh, tiba-tiba hati ini diselimuti kabut kesenduan. Tanpa bisa dicegah--seperti biasanya--hati berujar, "Bagaimana kau mengingat kematian?"

Apakah itu teguran untuk diri ini, atau sekedar judul pembuka dari memori-memori yang mengiringinya, aku tidak tahu. Karena kemudian slide-slide dalam warna sephia diprojeksikan ke salah satu sudut benakku. Slide-slide itu berisi memori di masa lalu yang entah bagaimana, hadir...

Bagaimana aku mengingat kematian?

Mungkin dengan memori tentang seorang kawan bernama Novi.

Aku masih bisa melihat wajahnya dengan jelas. Saat itu hari Ulangan Umum di SMP 19 Bekasi. Keheningan saja yang hadir, dan tentu saja, asap tak kasat mata yang melayang dari kepala-kepala pemikir muda di kelas itu. Jam tangan kugeletakkan di meja. Lalu...

"DIT-DIT...DIT-DIT!"

Peringatan itu memecah kesunyian kelas. Pukul sepuluh tepat. Tapi tidak ada yang bergerak. Semua kepala masih tertunduk. Entah kenapa, setelah mendengar peringatan itu, aku bertatapan dengan seorang teman lain, di meja di sebelah depan, baris sebelah kananku. Seolah suara itu begitu berarti. Dan mengapa kami memilih untuk bertatapan di jam sepuluh tepat itu, setelah sekian hari ujian dalam kelas yang sama, dan entah berapa kali bunyi peringatan jam, kami belum tahu. Kami lalu kembali menekuri soal-soal. Keheningan kembali berkuasa.

Tapi nampaknya tahta keheningan tidak pernah bisa lama berkuasa hari itu. Selang setengah jam kemudian, Andi, sang Ketua OSIS, salah satu sobat kentalku, memasuki kelas dan membawa kabar duka itu.

"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Telah berpulang ke rahmatullah, teman kita semua, Novi, di RSU Bekasi, jam sepuluh... Kepada teman-teman yang hendak melayat setelah ujian ini, dipersilakan untuk berkumpul di bawah."

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan pikiran pun tidak bisa melintas. Aku dan temanku tadi kembali berpandangan. Tanpa kata-kata, kami kembali bertatapan. Seketika itu juga kami mengerti, mengapa kami bertatapan sebelumnya. Kami mengerti.

Aku, yang sudah selesai mengerjakan ujianku, segera keluar stelah pengumuman selesai. Aku terdorong untuk mencari udara segar. Posisiku sebagai sekretaris Osis memungkinkan hal itu. Saat kutatap kejauhan, melintasi padang alang-alang di samping sekolah, aku bisa berpikir kembali. Kemarin, baru kemarin, aku masih bersamanya, tersenyum, mengerjakan ujian di kelas yang sama. Dia duduk di belakang. Aku masih ingat sweater merah yang dikenakannya, dia memang terlihat sakit. Namun hari ini, dia sudah tiada...

Bagaimana aku mengingat kematian?

Entahlah. Saat itu aku tidak bisa mengerti. Seolah yang terjadi saat itu tidak nyata, hanya ada dalam pikiranku saja. Namun aku tidak berlama-lama. Aku pun mengikuti temanku untuk berkeliling ke kelas-kelas lain , mengulangi berita yang semakin menyayat hati ketika disampaikan. Tanpa perlu susah payah, rombongan kelas dua, dari OSIS, guru-guru, anggota Paskibra SMP 19 Bekasi, teman-teman yang kenal Novi, berkumpul di depan kantor TU. Kami berangkat ke rumah duka.

Di rumah duka, aku tidak bisa mengeluarkan air mata. Entah..., kurasa kesedihanku lebih dalam dari sekedar air mata.

Novi dimakamkan di TPU Cilincing, Jakarta Utara. Tempat yang sentimental. Aku selalu merasa sentimentil bila pergi ke sana. Entah karena ingatan tentang Novi, entah karena kenyataan bahwa ibuku pun dibaringkan di hamparan tanah yang sama, tujuh tahun yang lalu.

Bagaimana aku mengingat kematian?

Mungkin dengan kesenduan lembut yang hadir memenuhi benakku saat kuingat Novi. Mungkin dengan kerinduan yang kerap membayang ketika kuingat Umi...

Entahlah...

Bodoh vs Bijaksana

Saya berkesempatan membaca buku terbaru dari Rhenald Kasali yang berjudul Re-Code Your Change DNA pada tanggal 20 Mei 2007, tepat pada hari Kebangkitan Bangsa. Saya terserap sepenuhnya pada buku itu. Sayangnya, saya hanya bisa menyelesaikan separuh dari buku ketika teman yang meminjamkannya hendak pergi.

Sebenarnya saya bisa menyelesaikannya dengan cepat seandainya saya tidak membaca sambil mencatat. Mencatat yang saya maksud adalah mengetikkan hal-hal penting yang saya peroleh dari buku itu ke dalam sebuah file. Itu kebiasaan saya; mencatat hal-hal penting dari buku yang saya baca. Banyak sekali ide, kutipan, dan kisah yang menarik serta menginspirasi di sana. Salah satunya tentang saat kita bodoh, kita berpikir untuk menguasai orang. Saat kita bijak, kita akan berpikir untuk menguasai diri sendiri.

Setelah berpikir cukup panjang, saya mendapatkan sebuah pemikiran menarik tentang Bodoh vs Bijaksana. Ide tentang Bodoh vs Bijaksana ini tidak langsung didapat setelah berpikir tentang ‘saat kita bodoh, kita berpikir untuk menguasai orang’ dan seterusnya. Saya melewati berbagai pemikiran lain tentang manajemen dan bisnis dulu. Ketika tiba pada topik cara-cara yang diterapkan dalam bisnis, baru saya terpikir tentang Bodoh vs Bijaksana. Berikut ini hasil olah-pikir saya.

Saya menimbang-nimbang..., kemudian memutuskan bahwa antonim dari ‘bodoh’ adalah ‘bijaksana’. Demikian pula sebaliknya, lawan kata ‘bijaksana’ adalah ‘bodoh’. Bila dilihat sekilas, pendapat saya akan dianggap tidak tepat, bahkan ngawur. Secara umum kita mengetahui bahwa lawan kata ‘bodoh’ adalah ‘pintar’. Tadinya saya berpendapat demikian. Tapi hasil pemikiran saya malah menunjukkan kalau lawan kata ‘bodoh’ bukan hanya ‘pintar’. Lawan kata ‘bijaksana’ bukan sekedar ‘tidak bijaksana’. Ada alasan yang logis (dan saya sendiri baru menyadarinya) untuk kesimpulan itu dan saya akan menceritakannya untuk anda.

Dalam kata ‘bodoh’, terkandung makna ‘ketidaktahuan’. ‘ketidaktahuan’ adalah makna yang paling dasar dari ‘bodoh’. Ternyata, makna ‘ketidaktahuan’ dari kata ‘bodoh’ tidak lantas menyebabkan ia memiliki lawan kata ‘pintar’. ‘pintar’ tidak sekedar ‘tahu’, tapi ada kandungan makna ‘kemampuan berpikir yang tinggi’ di sana. Dari sini kita memperoleh fakta baru bahwa dalam kata ‘bodoh’, terkandung makna ‘kemampuan berpikir yang rendah’. Karena makna ini, memang tepat bila ‘bodoh’ memiliki lawan kata ‘pintar’.

Sekarang saya minta anda untuk mengingat-ingat. Kapan anda menyebut seseorang bodoh? Jawaban dari pertanyaan barusan tentu lebih dari satu. Kita akan menyebut seseorang bodoh ketika orang itu tidak tahu apa-apa dan/atau lamban berpikir. Itu baru dua.


Sekarang saya akan bertanya lagi. Kapan tepatnya anda mengumpat pada orang (entah di dalam hati maupun secara verbal) dan menyebutnya bodoh? Ternyata, kala kita sedang kesal pada seseorang, kita menyebutnya bodoh tidak melulu lantaran dia tidak tahu atau lamban berpikir. Kita menyebutnya bodoh karena orang itu melakukan tindakan yang ceroboh, dan/atau kurang hati-hati, dan/atau tidak cermat dan/atau kurang pertimbangan. Dari sini, saya mendapati bahwa kata ‘bodoh’ tidak hanya mengandung aspek ketidaktahuan dan rendahnya kemampuan berpikir, tapi juga mengandung 'kecerobohan', 'ketidakhati-hatian', 'ketidakcermatan', dan 'kurang pertimbangan'.

Apakah dalam kata ‘pintar’ terkandung kemawasan, kehati-hatian, dan kecermatan? Ternyata, sepengetahuan saya, tidak. Seseorang boleh pintar, tapi belum tentu dia mawas diri, hati-hati, cermat, dan penuh pertimbangan. Sementara itu, orang yang bijaksana sudah tentu pintar dan... mawas diri, hati-hati, cermat, serta penuh pertimbangan. Demikianlah aspek-aspek dalam makna ‘bijaksana’ yang saya ketahui.

Setelah menimbang-nimbang dengan teliti, saya sampai pada kesimpulan sementara bahwa lawan kata ‘bodoh’ adalah ‘pintar’ dan ‘bijaksana’. Jadi ada dua lawan kata dari ‘bodoh’, yang penggunaannya bergantung pada konteks pembicaraan kita. Tapi, mengingat dalam kata ‘bodoh’ terkandung makna-makna yang tidak tercakup oleh lawan katanya yang ‘pintar’, saya menobatkan ‘bijaksana’ sebagai lawan kata ‘bodoh’ yang tepat.

Saya menduga-duga apa yang membuat nominasi untuk lawan kata dari ‘bodoh’ tidak tunggal. Apakah karena bahasa Inggris yang lebih detil dalam istilah itu yang memberi pengaruhnya pada bahasa Indonesia, sementara pilihan kata dalam bahasa Indonesia terbatas?


Entahlah, saya tidak bisa gegabah, meskipun hanya menduga. Saya memikirkan topik Bodoh versus Bijaksana ini hanya berdasarkan pada wawasan yang saya peroleh, hingga saat ini. Hanya menggunakan common sense. Besar kemungkinannya ahli linguistik atau bahasa akan protes.

Tapi... kesenangan mengulik-ulik makna kata, struktur, dan relasinya mengasyikkan buat saya. Kegiatan ini membawa saya menyelam masuk ke kedalaman sebuah makna kata. Yah, paling tidak saya bisa lebih kritis dalam berbahasa dan berbicara; tidak sekedar asal jeblak aja.



Oh ya, saya berharap anda tidak bosan dengan ulik-ulik bahasa yang saya lakukan belakangan ini. Saya punya semacam kekhawatiran, para pembaca akan mual-mual atau bahkan mati kebosanan karena topik yang saya pilih untuk pikirkan dan tulis. Semoga saja anda senang membacanya. :D